Kesimpulan
Vinicius tercatat 20 kali menjadi korban dugaan rasisme selama membela Real Madrid, sebuah fakta yang memperlihatkan bahwa isu diskriminasi masih menjadi tantangan serius dalam sepak bola modern. Dukungan klub, langkah hukum terhadap pelaku, serta perhatian internasional menunjukkan adanya kemajuan, tetapi konsistensi dan ketegasan tetap diperlukan.
Kasus-kasus ini bukan hanya tentang satu pemain, melainkan tentang bagaimana industri olahraga merespons ketidakadilan. Perjalanan Vinicius menjadi pengingat bahwa perjuangan melawan rasisme tidak berhenti di satu pertandingan atau satu vonis pengadilan. Sepak bola, sebagai olahraga global, dituntut untuk terus memperkuat komitmennya terhadap kesetaraan dan penghormatan terhadap martabat manusia.







