Catatan Dahlan Iskan

Tarim Tanah

Share
Tarim Tanah
Share

Debu kering.

Setiap ada mobil dan motor lewat debu beterbangan seperti sarung yang dikebaskan. Debu itu selalu kering dan lembut. Hujan hanya turun lima enam kali setahun.

Ups… ke tempat pembuatan bata tanah itu ziarah kedua saya. Di hari pertama saya sudah ke pondok Darul Mustofa. Pondok paling terkenal di Tarim. Sebenarnya bukan ziarah ke sana. Apartemen yang saya tempati memang di sebelahnya. Hanya dipisahkan perempatan berdebu.

Saya tiba di Tarim hari Jumat. Pesawat Yemeni jurusan Jeddah-Aden itu ternyata tidak mendarat di kota Aden. Mendaratnya di kota Saiyun –kota kecil yang jaraknya hampir 1000 km dari Aden. Bandara Aden memang tutup untuk penerbangan internasional. Yakni sejak terjadinya perang di Yaman.

Padahal di tiket tertulis jurusan Aden. Di layar keberangkatan di bandara Jeddah juga tertulis penerbangan ke Aden. Ternyata mendarat di Saiyun.

Berarti, dari bandara Saiyun tinggal 40 menit ke kota santri Tarim. Saya tidak peduli pesawat itu mendarat di mana. Pokoknya mendarat di Yaman. Saya belum pernah ke Yaman. Ingin ke Yaman. Mumpung sedang di Makkah bersama istri dan rombongan.

Bahwa mendarat di Saiyun tetap saja alhamdulillah. Baru pertama ini saya mendengar nama Saiyun. Saat mendarat itu. Berarti saya bisa ke Tarim. Kalau saja pesawat itu mendarat di Aden beneran mungkin saya tidak akan sampai Tarim. Terlalu jauh dari Aden.

Nama Tarim sudah sering Anda dengar. Terlalu banyak mahasiswa Indonesia –dari kalangan Islam tradisional– yang sekolah di Tarim.

Nama Tarim kian melambung dua tahun terakhir. Yakni sejak terjadi perdabatan seru soal ”habib itu keturunan Nabi Muhammad atau bukan”.

Tarim adalah pusatnya habib sedunia. Istilah habib sendiri lahir di kota Tarim. Di Arab Saudi tidak dikenal gelar habib. Pun di negara Arab lainnya.

Di Arab Saudi keturunan Nabi biasa dipanggil dengan sebutan sayyid.

Pukul 08.00 saya sudah mendarat di bandara Saiyun. Hanya dua jam penerbangan dari Jeddah. Langsung ke Tarim. Hanya 35 menit perjalanan.

Sebelum pesawat mendarat saya melongok dari kaca jendela: indah sekali. Pemandangan di bawah sana spektakuler. Seperti hamparan tanah rata yang luas. Tanpa tanaman maupun gundukan. Tapi hamparan itu seperti diiris-iris tidak lurus. Seperti banyak retakannya. Retakan yang dalam.

Share
Related Articles
Catatan Dahlan Iskan

Berpisah Istri

Oleh: Dahlan Iskan Saya berpisah lagi dengan istri: di Makkah. Hampir selalu...

Imron Djatmika
Catatan Dahlan Iskan

Imron Djatmika

Oleh: Dahlan Iskan Inilah dua orang yang tahu kapan harus berhenti jadi...

FDI Purbaya
Catatan Dahlan Iskan

FDI Purbaya

Oleh: Dahlan Iskan Konkret saja. Saya mencoba inventarisasikan apa saja yang jadi...

Catatan Dahlan Iskan

Guinness Patrick

Oleh: Dahlan Iskan Selain Bahlil ada lagi orang hebat dari Fakfak: Patrick...