IKNPOS.ID – Menjelang Ramadan 2026, Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Dapoer Rahayu Pulo Gebang menyiapkan skema khusus dalam pendistribusian program Makan Bergizi Gratis (MBG). Penyesuaian dilakukan agar kualitas makanan tetap terjaga hingga waktu berbuka puasa maupun sahur.
Kepala SPPG Dapoer Rahayu, Fariz Alaudin, menjelaskan bahwa tantangan utama selama bulan puasa adalah potensi makanan cepat basi apabila tetap menggunakan menu basah seperti hari biasa. Karena itu, pihaknya beralih ke menu kering yang lebih tahan lama.
“Untuk di Ramadan, kita gunakan skema berbeda. Sesuai arahan dari Waka Badan Gizi Nasional, menunya kering dan tahan cukup lama, artinya tidak mudah basi atau rusak,” ujar Fariz, Rabu (18/2/2026).
Dalam komposisi baru tersebut, telur rebus, roti, dan susu menjadi komponen utama. Ketiganya dinilai praktis, bergizi, dan memiliki daya simpan lebih baik dibandingkan lauk berkuah atau olahan basah lainnya.
“Contohnya roti, telur rebus, dan susu. Nanti dikomposisikan sesuai angka kecukupan gizi,” jelasnya.
Telur rebus dipilih karena kandungan proteinnya tinggi serta memiliki pelindung alami berupa cangkang, sehingga relatif lebih aman dalam proses distribusi yang memerlukan waktu lebih panjang.
Sebelum masa transisi menu Ramadan diberlakukan penuh, SPPG saat ini memprioritaskan kelompok 3B, yakni ibu hamil (bumil), ibu menyusui (busui), dan balita. Kelompok ini dianggap paling rentan karena kebutuhan gizinya bersifat harian tanpa mengenal hari libur.
Sementara itu, distribusi bagi peserta didik akan kembali berjalan normal mulai 23 Februari mendatang sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
Tak hanya itu, SPPG juga mengantisipasi libur panjang Idul Fitri yang diperkirakan berlangsung pertengahan Maret 2026. Untuk menghindari terhentinya asupan gizi selama masa libur dan mudik, skema distribusi “rapel” akan diterapkan.
Artinya, sebelum memasuki masa libur, paket gizi akan dibagikan sekaligus untuk kebutuhan beberapa hari ke depan. Langkah ini dilakukan agar meskipun aktivitas perkantoran jeda sementara, pemenuhan nutrisi bagi kelompok rentan dan anak-anak tetap terjamin.
Strategi adaptif tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan MBG terus disesuaikan dengan kondisi sosial dan keagamaan masyarakat, tanpa mengabaikan standar keamanan pangan dan kecukupan gizi.







