IKNPOS.ID – Tottenham Hotspur sedang menghadapi masa transisi besar setelah pemecatan Thomas Frank menyusul hasil buruk sepanjang musim ini. Klub asal London Utara tersebut berada di posisi ke-16 Premier League, hanya lima poin di atas zona degradasi, memicu keresahan di kalangan penggemar dan manajemen. Keputusan memecat Frank muncul setelah hanya meraih dua kemenangan dalam 17 pertandingan terakhir, termasuk kekalahan 2-1 di kandang dari Newcastle yang menjadi titik puncak kekecewaan.
Seiring dengan pergantian pelatih, perhatian Spurs tertuju pada mantan pelatih mereka, Mauricio Pochettino. Pelatih asal Argentina ini dikenal karena membawa klub ke final Liga Champions pada 2019 dan mempertahankan Spurs di papan atas Premier League selama lima tahun kepemimpinannya dari 2014 hingga 2019. Saat ini, Pochettino sedang menakhodai tim nasional Amerika Serikat, namun kontraknya akan berakhir setelah Piala Dunia di AS, Kanada, dan Meksiko, membuka peluang bagi Spurs untuk membujuknya kembali.
Pochettino sendiri menyatakan ketertarikannya dalam sebuah wawancara di High Performance Podcast: “Ini adalah klub yang seharusnya berada di Liga Champions, mencoba untuk percaya bisa memenangkan Liga Champions, sekaligus bersaing di Premier League dan percaya bisa memenangkan Premier League.” Pernyataan ini menegaskan ambisinya yang selaras dengan visi Spurs untuk kembali ke papan atas kompetisi domestik dan Eropa.
Selain Pochettino, Spurs juga mempertimbangkan beberapa kandidat lain. Roberto De Zerbi, mantan pelatih Marseille, menjadi favorit di kalangan bandar taruhan, sementara Jurgen Klinsmann dan Harry Redknapp juga masuk dalam radar klub. John Heitinga, yang baru diangkat sebagai asisten Thomas Frank, menjadi satu-satunya opsi internal untuk menangani sisa musim ini, bekerja sama dengan Justin Cochrane.
Keputusan Spurs ini datang pada momen kritis menjelang derby London Utara melawan Arsenal, dengan jeda sepuluh hari sebelum pertandingan tersebut. Manajemen klub menekankan pentingnya perubahan demi hasil dan performa tim: “Kami telah berusaha memberikan Thomas waktu dan dukungan yang dibutuhkan untuk membangun masa depan. Namun, hasil dan performa membuat dewan menyimpulkan bahwa perubahan diperlukan.”
Seiring dengan turbulensi internal, Spurs juga menghadapi kendala cedera, termasuk pemain sayap Wilson Odobert yang kemungkinan absen hingga akhir musim akibat cedera lutut. Hal ini menambah tekanan pada manajemen untuk menemukan pelatih yang mampu menstabilkan tim dan mengembalikan performa, baik di Premier League maupun di kompetisi Eropa.
Thomas Frank, yang sebelumnya dianggap sebagai manajer fleksibel secara taktik, justru menunjukkan ketidakmampuan dalam mengatur strategi tim. Sistem 4-2-3-1 yang dipakainya menjadi monoton, sementara pengaturan pemain di sisi kiri sering kali tidak efektif. Bahkan pendekatan adaptasi taktiknya terhadap situasi berbeda di Premier League maupun Liga Champions sering gagal menghasilkan serangan yang terorganisir. Kegagalan ini mencerminkan kurangnya efektivitas pelatihan di lapangan dan strategi yang terlalu sederhana untuk tim yang sedang dibangun.
Dengan sorakan penggemar yang masih mendukung nama Pochettino, peluang Spurs untuk membawa kembali mantan pelatih ini menjadi topik utama. Reuni ini bukan hanya soal nostalgia, tetapi juga tentang menegaskan ambisi klub untuk kembali ke kompetisi elit Eropa dan memulihkan performa di liga domestik. Pochettino dianggap sebagai figur yang memahami budaya klub dan mampu mengembalikan Spurs ke jalur kemenangan.
Kesimpulannya, Tottenham Hotspur menghadapi fase penting dalam sejarah modern klub. Pemecatan Thomas Frank membuka peluang untuk menghidupkan kembali era Pochettino, yang sebelumnya membawa tim ke puncak prestasi. Dengan mempertimbangkan kandidat lain seperti De Zerbi dan Klinsmann, keputusan akhir akan sangat menentukan masa depan klub, baik dari segi posisi di Premier League maupun persiapan untuk kompetisi Eropa. Strategi manajemen, kesiapan pelatih, dan kondisi pemain menjadi faktor penentu agar Spurs mampu keluar dari krisis dan membangun kembali ambisi juara.
Referensi: Thesun.co.uk, Reuters, EPA, Getty Images







