Kiki punya latar belakang artis sinetron tapi tidak ada yang mempersoalkan. Dia artis tapi cerdas. Latar belakang pendidikannyi ekonomi dan keuangan: Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dan California State University di Fresno.

Kiki juga sudah malang-melintang di dunia keuangan dan manajemen. Mulai di perbankan sampai pasar modal. Juga pernah di sektor riel dengan menjadi Dirut PT BRI Danareksa Securitas. Itu yang membuat tidak ada yang mempersoalkan latar belakang keartisannyi.
Gaya bicara Kiki normal-baik. Memang belum seperti Sri Mulyani yang dikenal sebagai ‘bibir dan otaknyi’ bergerak sama cepatnya. Tapi Kiki berjanji akan mereformasi bursa saham BEI ‘secepat mungkin’.
Tentu kata ‘secepat mungkin’ bukanlah kata yang cukup memuaskan. Di kalangan manajemen ada doktrin: mengucapkan kata ‘secepat mungkin’ sama dengan tidak mengucapkan apa pun. Itu tidak konkrit. Tidak terukur. Tidak bisa ditagih.
Saya termasuk benci kalau ada anak buah yang mengucapkan kata ‘secepat mungkin’ atau ‘secepat-cepatnya’. Saya selalu mengejarnya dengan pertanyaan lain: kapan?
Tentu Kiki tidak bisa saya tanya begitu. Dia bukan anak buah saya dan saya bukan anak buah Kiki. Dia memang harus hati-hati bicara di depan publik. Tidak sama dengan kalau bicara di depan anak buah sendiri.

Reformasi yang harus dilakukan di bursa itu ada empat atau enam butir. Tergantung cara menyusun butirnya. Salah satu di antaranya: demutualisasi.
Artinya: perlu ada perubahan bentuk kepemilikan. Dari selama ini BEI milik perusahaan broker menjadi milik pemegang saham. Berarti bentuk BEI harus perseroan terbatas.
Selama ini, sejak mergernya Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya, bentuk BEI sudah PT. Tapi operasionalnya seperti bukan PT beneran. Dulu saya aktif ikut membidani lahirnya Bursa Efek Surabaya –sedikit banyak tahu soal merger itu.







