Oleh: Dahlan Iskan
Malam sebelum meninggalkan Tarim –menuju Al Azhar, Kairo– saya diundang bertemu para mahasiswa Indonesia di sana. Yang mengadakan acara: pengurus Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Tarim. Ketuanya, Ahmad Fikri Syafi’i, alumnus pondok Habib Baharun, Bangil.
Tempat acaranya: di kantor Satgas Perlindungan Warga Indonesia di Tarim. Indonesia memang tidak punya lagi duta besar di Yaman. Sejak meletus perang saudara di sana. Duta besarnya dirangkap dari Oman. Kedutaan itu punya kantor satgas di Tarim. Petugas satgasnya adalah lima mahasiswa Indonesia yang kuliah di sana.
Malam itu sekitar 100 mahasiswa kumpul di gedung satgas. Mereka calon ulama semua. Calon pendakwah semua. Kami berdiskusi.

Saya menceritakan fakta baru banyaknya sekolah Islam di Indonesia yang mutunya tinggi-tinggi. Modern. Internasional.
Sudah banyak yang mengalahkan kehebatan sekolah-sekolah Katolik. Padahal dulu tidak ada sekolah Islam yang bisa mendekati kualitas sekolah Katolik. Hampir di semua kota seperti itu.
Itu fenomena baru. Bukan milik NU atau Muhammadiyah atau Persis atau organisasi keagamaan. Semua milik pribadi-pribadi orang NU atau Muhammadiyah.
Maka saya ajak mereka mendiskusikan: apakah perlu kita punya terlalu banyak lulusan juru dakwah. Utamanya: apakah perlu kita punya terlalu banyak sarjana agama. Seperti yang diproduksi masal oleh UIN dan universitas Islam swasta.
Negara, kalau mau maju, memerlukan lebih banyak sarjana di banyak bidang kehidupan.
Toh sudah ada Tarim, Al Azhar, Ummul Quro, dan beberapa universitas laris di Maroko dan Syria. Sudah puluhan ribu mahasiswa Indonesia ke sana tiap tahunnya. Apakah tidak mereka saja calon ulama kita. Tidak perlu lagi ada UIN dengan gaya lama. Apakah belum waktunya UIN dibubarkan, diganti dengan UIN baru.
Dengan universitas Islam model sekarang (negeri dan swasta) kita akan punya terlalu banyak sarjana agama. Yang kualitasnya umumnya nanggung. Padahal kita lebih perlu banyak sarjana apa saja di seluruh sektor kehidupan manusia masa depan.







