IKNPOS.ID – Isu kelayakan kesehatan (istithaah) calon jemaah haji menjadi sorotan serius di kalangan pendidikan kedokteran. Melalui Seminar Nasional Kesehatan Haji bertema “Istithā‘ah Kesehatan Calon Jamaah Haji yang Berkeadilan dan Bertanggung Jawab”, Universitas YARSI menegaskan pentingnya peran dokter sejak tahap edukasi hingga pendampingan jamaah.
Rektor Universitas YARSI, Fasli Jalal, menyampaikan bahwa konsep istithaah kesehatan harus dipahami secara menyeluruh sejak masa pendidikan. Menurutnya, dokter tidak cukup hanya berfokus pada aspek kuratif, tetapi juga perlu menguatkan pendekatan preventif dan promotif.
Ia menilai, dengan mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, dokter perlu dibekali kompetensi khusus dalam mendampingi calon jamaah haji. Pemahaman terhadap kompleksitas istithaah, termasuk kesiapan fisik dan manajemen penyakit kronis, menjadi bagian penting dalam pelayanan.
Pendampingan kesehatan, lanjutnya, idealnya dilakukan sejak perencanaan keberangkatan, selama masa tunggu, hingga setelah jamaah kembali dari Tanah Suci. Pemeriksaan rutin, deteksi dini penyakit seperti jantung, paru, dan ginjal, serta penanganan cepat menjadi faktor kunci agar jamaah tetap dalam kondisi prima saat beribadah.
Selain itu, tenaga medis perlu memiliki peta risiko kesehatan jamaah agar dapat mengambil langkah strategis terhadap kelompok berisiko tinggi. Pendekatan ini dinilai akan meningkatkan kualitas layanan sekaligus menekan potensi komplikasi selama pelaksanaan ibadah haji.
Untuk mendukung hal tersebut, YARSI telah memasukkan materi istithaah dalam kurikulum kedokteran serta menyiapkan pelatihan khusus bagi dokter yang ingin menjadi pendamping haji. Langkah ini dinilai relevan mengingat jumlah jamaah Indonesia yang mencapai ratusan ribu orang setiap tahun.
Fasli juga mengimbau masyarakat agar tidak mengabaikan aspek kesehatan sebelum berhaji. Ia mendorong calon jamaah untuk aktif memeriksakan diri dan melaporkan keluhan medis sedini mungkin. Menurutnya, kesiapan spiritual harus berjalan seiring dengan kesiapan fisik agar jamaah dapat berangkat dalam kondisi sehat dan kembali dengan selamat.