Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa konflik bersenjata akan membawa konsekuensi besar dan sulit dikendalikan. Ia menyebut perang sebagai “pertaruhan nyata” bagi Tehran.
“Mari kita fokus pada diplomasi, karena diplomasi akan menguntungkan semua orang. Tidak ada solusi militer untuk masalah nuklir Iran,” katanya, seraya memperingatkan dampak luas yang bisa dirasakan kawasan apabila perang benar-benar terjadi.
Takht-Ravanchi juga membantah spekulasi bahwa Iran akan menyerang negara-negara tetangganya seperti Uni Emirat Arab atau Arab Saudi jika konflik pecah. Ia menyatakan bahwa target Iran justru akan diarahkan pada aset-aset Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Proses dialog antara Tehran dan Washington berlangsung di tengah meningkatnya kehadiran militer AS di kawasan Teluk Persia. Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya juga melontarkan ancaman akan mengambil langkah militer jika diplomasi nuklir menemui jalan buntu.
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dilaporkan telah menggelar sejumlah latihan militer sebagai bagian dari kesiapan menghadapi kemungkinan terburuk.
Sumber: Anadolu







