Kesimpulan
Konsep Huma Betang Umai yang diusung Istana Wakil Presiden di IKN menunjukkan bahwa pembangunan ibu kota baru tidak semata-mata berorientasi pada kemegahan fisik. Filosofi rumah panjang Dayak yang menekankan kebersamaan, perlindungan, dan peran ibu sebagai pengayom diterjemahkan ke dalam arsitektur kenegaraan yang lebih manusiawi dan kontekstual.
Melalui pendekatan ini, Istana Wakil Presiden tidak hanya berfungsi sebagai pusat aktivitas pemerintahan, tetapi juga sebagai simbol cara negara memandang rakyatnya. Huma Betang Umai menghadirkan pesan bahwa kekuasaan idealnya berakar pada nilai merawat dan melindungi, sebuah makna yang relevan dalam perjalanan Indonesia membangun ibu kota baru di jantung Kalimantan.