Penerapan Konsep dalam Arsitektur Istana Wapres
Penerjemahan Huma Betang Umai ke dalam desain Istana Wakil Presiden dilakukan melalui pendekatan arsitektur rumah panggung dan rumah panjang, yang merupakan ciri khas permukiman tradisional Kalimantan. Bentuk bangunan diangkat dari tanah, mengikuti karakter lingkungan setempat sekaligus menyesuaikan dengan kondisi alam.
Lahan Istana Wakil Presiden yang mencapai lebih dari 148 ribu meter persegi dirancang untuk menciptakan ruang yang terbuka, lapang, dan terhubung dengan alam sekitarnya. Tata letak bangunan tidak menutup diri, melainkan mengalir dan menyatu dengan lanskap, sejalan dengan filosofi huma betang yang mengedepankan keterbukaan dan kebersamaan.
Konsep ini juga diterjemahkan ke dalam fungsi ruang, di mana Istana tidak hanya diposisikan sebagai simbol kekuasaan, tetapi sebagai tempat kerja dan ruang representasi negara yang manusiawi. Skala bangunan, sirkulasi, serta pembagian area dirancang untuk menghadirkan kenyamanan dan rasa aman, bukan jarak yang kaku antara penguasa dan rakyat.
Nilai Lingkungan dan Kenyamanan Pengguna
Selain aspek budaya, Istana Wakil Presiden di IKN juga dirancang dengan perhatian terhadap lingkungan dan kenyamanan. Basuki Hadimuljono menjelaskan bahwa bangunan ini mengusung konsep hemat energi dan tidak konsumtif. Prinsip tersebut diwujudkan melalui penggunaan pendingin hibrida yang memaksimalkan sirkulasi udara silang, sehingga mengurangi ketergantungan pada pendingin udara buatan.
Orientasi bangunan mengikuti arah matahari dari barat ke timur untuk meminimalkan pemanasan berlebih. Pendekatan ini mencerminkan cara masyarakat tradisional Kalimantan membangun rumah dengan memperhatikan alam sekitar, sebuah praktik yang kini diadaptasi dalam bangunan pemerintahan modern.
Dengan pendekatan tersebut, Istana Wakil Presiden tidak hanya menjadi ikon visual IKN, tetapi juga mencerminkan upaya menghadirkan bangunan yang selaras dengan iklim tropis dan lingkungan hutan Kalimantan.
Simbol Identitas dalam Pembangunan Ibu Kota Baru
Pemilihan konsep Huma Betang Umai menegaskan arah pembangunan IKN yang berupaya menjadikan budaya lokal sebagai bagian integral dari wajah negara. Istana Wakil Presiden dihadirkan bukan sebagai bangunan yang terlepas dari konteks geografis dan sosialnya, melainkan sebagai simbol bahwa negara menghormati dan mengangkat identitas daerah tempat ibu kota berdiri.
Pendekatan ini sekaligus menjadi pesan bahwa pembangunan nasional tidak selalu harus berangkat dari simbol-simbol lama, tetapi dapat tumbuh dari nilai-nilai lokal yang telah teruji oleh waktu. Dalam konteks ini, Istana Wakil Presiden menjadi ruang narasi tentang Indonesia yang beragam, di mana budaya lokal mendapatkan tempat terhormat dalam simbol kenegaraan.