Maroko selama ini dikenal kerap menghadapi kasus hooliganisme sepak bola. Namun, perkara kali ini dinilai tidak biasa karena seluruh terdakwa merupakan warga negara asing.
Kasus ini menjadi lanjutan dari polemik panjang pasca final Piala Afrika yang juga memicu ketegangan di media sosial. Sejumlah kelompok hak asasi manusia di Maroko menyoroti meningkatnya ujaran kebencian setelah pertandingan tersebut.
Sebelumnya, Confederation of African Football menjatuhkan sanksi berupa denda total satu juta serta larangan tertentu kepada federasi sepak bola Maroko dan Senegal akibat kekacauan dalam laga final. Pihak Maroko telah menyatakan rencana untuk mengajukan banding karena menilai sanksi tersebut tidak sebanding dengan insiden yang terjadi.
Kericuhan juga dipicu aksi pemain Senegal yang sempat meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes atas keputusan wasit. Di luar stadion, sebagian suporter melempar kursi ke arah lapangan dan terlibat bentrokan dengan petugas keamanan sebelum polisi turun tangan.
Meski demikian, pemerintah kedua negara berupaya meredam dampak diplomatik dari insiden tersebut. Pejabat tinggi Maroko dan Senegal menegaskan hubungan bilateral tetap kuat dan bersejarah. Bahkan, Perdana Menteri Senegal sempat melakukan kunjungan ke Maroko untuk menandatangani sejumlah kesepakatan kerja sama di sektor pertanian dan pertambangan, sebagai upaya memperkuat hubungan ekonomi kedua negara.
- CAF
- hooliganisme
- hukuman suporter final Piala Afrika
- kasus hooliganisme sepak bola Afrika
- kerusuhan final Piala Afrika Maroko vs Senegal
- kerusuhan sepak bola
- Maroko
- pengadilan Maroko
- Piala Afrika
- sanksi CAF final Piala Afrika
- Senegal
- suporter Senegal dihukum penjara di Maroko
- vonis pengadilan Maroko untuk suporter asing







