IKNPOS.ID – Pulau Kalimantan tengah diposisikan sebagai poros baru perekonomian Indonesia. Akademisi dari Universitas Gadjah Mada, Amirullah Setya Hardi, menegaskan percepatan hilirisasi sumber daya alam (SDA) dan diversifikasi ekonomi menjadi prasyarat utama agar Kalimantan mampu bertransformasi menjadi Superhub Ekonomi Nusantara pada 2029.
Pernyataan tersebut disampaikannya dalam forum daring di Samarinda, Senin, sebagai respons terhadap arah kebijakan pembangunan nasional jangka menengah.
“Kalimantan sudah ditetapkan sebagai Superhub Ekonomi Nusantara. Fokus utamanya adalah hilirisasi SDA dan pengembangan pusat pangan nasional,” ujarnya.
Arah besar tersebut tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029.
Dalam dokumen itu, Kalimantan tidak lagi diposisikan hanya sebagai wilayah penyangga sumber daya, tetapi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Kebijakan ini menandai perubahan paradigma pembangunan: dari eksploitasi mentah menuju pengolahan bernilai tambah.
Ketergantungan Tambang Dinilai Tak Berkelanjutan
Amirullah menjelaskan bahwa struktur ekonomi Kalimantan saat ini masih sangat bergantung pada sektor pertambangan batu bara dan perkebunan kelapa sawit.
Meski kedua sektor tersebut berkontribusi besar terhadap pendapatan daerah, ketergantungan berlebihan dinilai berisiko bagi keberlanjutan ekonomi jangka panjang.
“Sektor ekstraktif harus segera diimbangi dengan pengembangan sektor lain agar ekonomi Kalimantan tidak rapuh,” tegasnya.
Secara spasial, Kalimantan menyumbang sekitar 9,23 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, menempatkannya di posisi ketiga setelah Jawa dan Sumatera.
Angka ini menunjukkan potensi besar yang masih bisa ditingkatkan jika strategi industrialisasi dan diversifikasi dijalankan secara konsisten.
IKN Jadi Mesin Penggerak Ekonomi Regional
Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur dinilai sebagai katalis utama perubahan struktur ekonomi wilayah.







