IKNPOS.ID – Pengembangan sektor pertanian di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur (Kaltim) diposisikan sebagai elemen penting dalam pembangunan berwawasan lingkungan, sekaligus menopang sistem pangan yang berkelanjutan.
Pandangan tersebut disampaikan Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita IKN (OIKN), Myrna Asnawati Safitri, dalam orasi ilmiah pada peringatan Dies Natalis ke-37 Politani Samarinda, Senin, 9 Februari 2026.
Menurutnya, perancangan sistem pangan di IKN tidak bertumpu pada satu komoditas utama. Masyarakat justru diarahkan untuk mengonsumsi berbagai sumber pangan, seperti umbi-umbian, kacang-kacangan, serta pangan lokal lainnya yang sejalan dengan prinsip keberlanjutan pertanian.
Ia menuturkan, dalam sejumlah kegiatan yang digelar di kawasan IKN, menu konsumsi yang disajikan kerap berupa olahan sederhana berbasis pangan lokal, misalnya umbi-umbian rebus. Pola ini sengaja diterapkan untuk membentuk kebiasaan konsumsi yang beragam sekaligus mendukung penguatan sistem pertanian setempat.
“Keragaman konsumsi itu by design. Bukan sesuatu yang tidak dipikirkan, karena dari situ pola pertanian diarahkan pada agroforestri agar berbagai tanaman bisa tumbuh dalam satu lanskap,” ujarnya.
Myrna menekankan bahwa sektor pertanian di IKN merupakan bagian dari infrastruktur hijau berskala besar yang terintegrasi dengan ruang terbuka hijau, yang mencakup sekitar 75 persen dari total wilayah. Dengan pendekatan tersebut, pertanian berperan ganda sebagai penjaga keseimbangan ekologi dan fondasi ketahanan pangan perkotaan.
Meski demikian, ia mengakui bahwa kondisi ekosistem saat ini masih menghadapi sejumlah tantangan. Beberapa area lahan mengalami penurunan kualitas akibat aktivitas pembangunan, sementara praktik pertanian masih sangat bergantung pada pasokan pupuk, benih, dan pestisida dari luar kawasan.
Ketergantungan tersebut dinilai berpotensi menimbulkan kerentanan, terutama apabila terjadi gangguan distribusi atau transportasi. Oleh sebab itu, diperlukan pergeseran cara pandang menuju sistem pertanian yang lebih adaptif, berkelanjutan, dan berbasis praktik ramah lingkungan.