Sementara itu, Pertamina Dex (CN 53) tercatat turun tipis menjadi Rp13.500 per liter, dari sebelumnya Rp13.600 per liter. Meski penurunannya tidak terlalu besar, perubahan ini tetap memberikan dampak bagi konsumen setia BBM diesel nonsubsidi, terutama sektor transportasi dan industri.
Di sisi lain, Pertamina memastikan harga BBM penugasan dan subsidi tetap tidak berubah. Harga Pertalite masih dipatok Rp10.000 per liter, sedangkan Biosolar tetap dijual dengan harga Rp6.800 per liter. Kebijakan ini dilakukan untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat, khususnya kelompok pengguna BBM bersubsidi.
Pertamina menjelaskan bahwa penyesuaian harga BBM ini dilakukan dalam rangka mengimplementasikan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022. Aturan tersebut merupakan perubahan atas Kepmen ESDM Nomor 62 K/12/MEM/2020.
Regulasi tersebut mengatur formula harga dasar dalam perhitungan harga jual eceran BBM umum, baik untuk jenis bensin maupun minyak solar yang disalurkan melalui stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Dengan formula tersebut, harga BBM dapat disesuaikan secara berkala mengikuti parameter yang telah ditetapkan.
Melalui penyesuaian ini, Pertamina menegaskan komitmennya untuk menerapkan harga BBM secara transparan dan sesuai regulasi. Di saat yang sama, pemerintah tetap menjaga keseimbangan antara mekanisme pasar dan perlindungan terhadap masyarakat melalui BBM subsidi dan penugasan.
Dengan turunnya harga BBM nonsubsidi pada Februari 2026, masyarakat diharapkan dapat memanfaatkan penyesuaian ini secara bijak, sembari tetap mengikuti perkembangan kebijakan energi nasional ke depan.
harga BBM Februari 2026, harga Pertamax terbaru, penurunan harga BBM, BBM nonsubsidi Pertamina, harga BBM Jabodetabek. *