IKNPOS.ID – Pusat Kebudayaan Ibu Kota Nusantara (IKN) dirancang tidak sekadar sebagai bangunan monumental, tetapi juga sebagai simbol perjalanan peradaban Nusantara. Pemenang Sayembara Desain Bangunan dan Kawasan Pusat Kebudayaan IKN mengangkat nilai kearifan lokal Kalimantan sebagai inti dari arsitektur, menggabungkan tradisi, filosofi, dan estetika modern untuk menciptakan ruang budaya yang menginspirasi.
Konsep Arsitektur Berakar pada Budaya
Desain pemenang utama, Cerlang Nusantara, menghadirkan konsep perjalanan peradaban manusia dari zaman megalitikum hingga masa depan. Bangunan utama menggunakan nuansa batu dengan bentuk prismatik yang mencerminkan kekokohan sejarah, sementara filosofi pohon kehidupan atau pohon kebijakan yang khas Kalimantan menjadi elemen estetika sekaligus simbol nilai-nilai budaya yang menuntun pembangunan ke arah berkelanjutan. Filosofi ini tercermin dalam tata letak ruang, ornamen, dan integrasi elemen alam ke dalam desain.
Kawasan Pusat Kebudayaan IKN dibangun sejajar dengan sumbu kebangsaan yang menghubungkan Istana Negara, Plaza Bhinneka Tunggal Ika, Kantor Otorita IKN, dan Masjid Negara. Penataan ini tidak hanya menekankan harmonisasi simbol-simbol nasional, tetapi juga mengintegrasikan filosofi lokal ke dalam konteks modern, memperlihatkan bagaimana arsitektur dapat menjadi jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Ruang untuk Pengetahuan dan Kreativitas
Pusat Kebudayaan IKN dirancang untuk menjadi ruang multifungsi yang menampung museum, perpustakaan, galeri seni, dan gelanggang olahraga. Museum dan galeri berfungsi sebagai wadah untuk menampilkan sejarah, seni, dan tradisi Nusantara, sementara perpustakaan menjadi pusat transformasi pengetahuan yang mendorong riset dan edukasi. Gelanggang olahraga menambah dimensi sosial dan kesehatan, menegaskan bahwa budaya juga mencakup aktivitas fisik dan interaksi komunitas.
Menurut Yori Antar, salah satu anggota tim pemenang sayembara, “IKN akan menginspirasi dunia, karena IKN menunjukkan betapa kayanya budaya dan tradisi kita.” Pernyataan ini menegaskan bahwa filosofi lokal tidak hanya menjadi elemen dekoratif, tetapi menjadi jiwa yang memberi arah dan identitas bagi seluruh kawasan.







