Komplikasi paling berbahaya dari virus Nipah adalah peradangan otak atau ensefalitis. Pada fase ini, pasien dapat mengalami gangguan neurologis serius seperti kebingungan, penurunan kesadaran, kejang, hingga koma.
Gejala saraf tersebut dapat muncul beberapa hari atau bahkan beberapa minggu setelah keluhan awal, sehingga kerap luput dari kewaspadaan dini. Dalam sejumlah kasus, infeksi juga disertai meningitis.
Virus Nipah dikenal memiliki tingkat fatalitas yang tinggi. Berdasarkan berbagai catatan wabah sebelumnya, angka kematian berkisar antara 40 hingga 75 persen, tergantung pada kondisi pasien dan karakteristik wabah.
Bahkan bagi penyintas, risiko tidak berhenti setelah dinyatakan sembuh. Sebagian pasien dilaporkan mengalami dampak neurologis jangka panjang, seperti kejang berulang atau perubahan perilaku dan kepribadian.
Dalam situasi yang sangat jarang, peradangan otak akibat virus Nipah juga dapat kambuh setelah berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Kondisi ini diduga berkaitan dengan reaktivasi virus yang masih bertahan di dalam tubuh.
Virus Nipah pertama kali dikenali pada 1999, ketika wabah ensefalitis dan gangguan pernapasan menyerang peternak babi di Malaysia dan Singapura.
Sejak saat itu, setiap kemunculan kasus baru selalu direspons dengan kewaspadaan tinggi, mengingat potensi penularan dan dampaknya yang serius bagi kesehatan masyarakat. *