Karena kondisinya memburuk, Pirna dirujuk ke Rumah Sakit Ampana. Namun takdir berkata lain, ia meninggal dunia dalam perjalanan rujukan.
“Setelah pasien meninggal, tenaga kesehatan menyarankan agar jenazah dibawa kembali ke puskesmas. Namun pihak keluarga memilih diturunkan di Desa Sukamaju karena di sana ada kerabat,” ujar Niko, Sabtu (17/1/2026).
Ia menjelaskan, keputusan keluarga membawa jenazah menggunakan sepeda motor tak lepas dari kondisi geografis dan keterbatasan sarana transportasi. Ambulans puskesmas saat itu masih merujuk pasien lain ke RS Ampana.
“Keluarga sebenarnya diminta menunggu ambulans, tetapi mereka menolak karena jarak sangat jauh dan khawatir harus bermalam di jalan,” katanya.
Niko menambahkan, akses menuju tempat tinggal korban memang sangat sulit. Dari Desa Uematopa ke Dusun Paria, lokasi tempat Pirna tinggal, membutuhkan waktu sekitar empat jam perjalanan. Sementara menuju puskesmas bisa memakan waktu hingga delapan jam jika cuaca mendukung.
“Medannya berat. Bidan berada di Desa Uematopa, sementara rumah pasien berada jauh di dalam kawasan kebun,” jelasnya.
Terkait pelayanan medis, Niko menegaskan bahwa pihak puskesmas telah melakukan penanganan sesuai prosedur. Pasien diperiksa dokter, diberikan perawatan awal, dan segera dirujuk ke rumah sakit.
“Sejak awal sudah ditangani sesuai standar medis,” tegasnya.
Namun kisah Pirna tetap meninggalkan luka mendalam dan pertanyaan besar: sampai kapan ibu-ibu di pelosok negeri harus bertaruh nyawa hanya untuk melahirkan kehidupan baru?
Link Video Jenazah Ibu Muda Dibawa dengan Sepeda Motor







