riansyah harun
“Keplek Stop” yang mulai diterapkan pada Institusi Pertamina sekarang ini, adalah Gebrakan yang baik. Biasanya ada petunjuk manualnya. Kalau di jajaran Direksi ada “Board Manual” nya, di jajaran bawahnya secara nyelenehnya mungkin bisa disebut OffMan (Oficier Manual). Kalau dalam industri industri kecil, barangkali lebih kepersamaan kata dengan istilah “Juknis” (Petunjuk Teknis). Siapa tau “Officer Manual” tadi, jangan jangan bisa membuat seorang karyawan pada lapisan paling bawahpun, bisa dengan spontan menarik tuas, jika ada alarm bahaya. Saya jadi teringat, ketika puluhan tahun lalu, saat saya masih menjadi sesuatu yang penting (pinjam istilah Pak Dahlan) di Industri besar ber skala PMA, pernah memutuskan untuk memberhentikan pabrik karena menyangkut keselamatan pabrik yang lebih besar lagi. Namun Presiden Direkturnya yang ber kedudukan di Kantor Pusat, sampai marah besar pada saya. Karena setiap jam yang hilang, karena produksi terhenti, adalah kehilangan uang yang setara dengan harga 10 unit mobil Truck Besar keluar dari Dieler, yang tugasnya wira wiri memuat bahan mentah yang siap di olah pabrik. Beda kalau Presiden Direkturnya ada di lokasi setiap saat, yang rela tidak tidur sampai pukul 04.00 dini hari setiap harinya, sampai tidak lagi memperdulikan kesehatannya. Walaupun sampai harus menerima efek Ganti Hati dan perbaikan Aortanya, dikemudian hari.
Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
DISMorning – 28 JANUARI 2026.. BAHAGIA ITU SOAL CUKUP, BUKAN SOAL CEPAT.. DISMorning pagi ini mengalir dari hal sederhana. Antara Salsa dan pak Dahlan. Bicara soal ASI. Soal Salsa sebagai ibu muda. Yang ultra modern karena memberikan ASI. Soal lingkungan yang mendukung. Lalu meloncat ke riset Harvard dan Gallup yang menyebut Indonesia tinggi dalam “flourishing”. Florishing itu kebahagiaan. Bukan sekadar senang. Bukan sekedar bahagia. Apalagi sesaat. Tapi merasa hidup bermakna. Punya hubungan sosial kuat. Punya rasa cukup. Pak Dahlan langsung mengaitkan bahagia dengan keinginan. Bahagia itu ketika keinginan tercapai. Kalau keinginan ditaruh terlalu tinggi, hidup jadi lomba lari tanpa garis finis. Maka resepnya sederhana. Pasang target rendah dulu. Capai. Bahagia. Naikkan sedikit lagi. Capai lagi. Bahagia lagi. Begitu seterusnya. Obrolan melebar ke anak muda. Generasi yang disebut cemas. Kata beliau, lingkungan menentukan rasa. Anak muda hidup di medsos. Isinya perbandingan. Nyinyir. Pesimisme menular. Tapi optimisme juga bisa menular. Umur bertambah, lingkungan berubah, cara pandang ikut menyesuaikan. Masuk ke soal sukses. Sukses tidak otomatis bikin bahagia. Uang bukan jaminan tenang. Kuncinya satu istilah Jawa: ojo kemrungsung. Jangan rakus. Jangan tergesa. Kerja keras boleh. Serakah jangan. Di akhir, beliau menolak memberi nasihat. “Anak muda perlu kepercayaan, bukan ceramah”. Karena tanggung jawab lahir dari dipercaya, bukan dari didoktrini. Salam hangat..







