Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
KEPLEK STOP, TAPI SIAPA BERANI STOP DRAMA? Baca CHD hari ini saya juga tertarik ke cerita “Keplek Stop!”. Semua pegawai boleh menghentikan pekerjaan kalau lihat bahaya. Keren. Budaya safety naik kelas. Nyawa lebih penting dari target produksi. Ini lompatan peradaban di perusahaan migas. Tapi kok ironis. Di lapangan orang boleh teriak “Stop!” demi keselamatan. Di ruang rapat, siapa yang berani teriak “Stop!” demi tata kelola? Atau demi akal sehat bisnis? Tombol darurat ada di helm proyek. Tidak ada di meja direksi. Keplek itu simbol keberanian bawahan menghentikan risiko fisik. Tapi risiko keputusan miliaran dolar? Itu sering jalan terus. Semua diam. Takut dibilang menghambat. Takut dianggap tidak solid. Ujungnya kalau ada apa-apa, yang duduk di kursi operasional yang duluan diperiksa. Budaya keselamatan seharusnya tidak berhenti di kilang dan rig. Harus naik ke lantai atas. Ke ruang direksi. Ke ruang komisaris. Harus ada juga “Keplek Stop Manajemen”. Siapa pun boleh bilang, “Tunggu. Ini sudah sesuai aturan belum? Sudah cukup hati-hati belum?” Kalau tidak, kita cuma hebat menyelamatkan orang dari ledakan. Tapi gagal menyelamatkan orang dari ledakan perkara. Yang satu bunyinya “boom”. Yang satu lagi bunyinya palu hakim. Keduanya sama-sama bikin karier rontok.
DeniK
di perusahaan besar yang melaksanakan sefety rule dengan ketat , ada yang namanya “golden Rules” . jangan coba untuk melanggar sangsinya tegas . pelanggaran pertama dan terakhir SP 3 ,pelanggaran kedua PHK . ada juga yang pelanggaran pertama langsung PHK . seperti permainan main bola 2 kali kartu kuning langsung kartu merah . ada juga yang kartu merah langsung . sebenarnya ini bentuk kepedulian perusahaan kepada karyawan nya karena resiko kerja yang tinggi ,namun banyak karyawan yang tdk nyaman kalau ada safety officer sedang patroli .
Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
BEGITU DILANTIK, BOD DAN ATAU BOC HARUSNYA LANGSUNG BACA BOARD MANUAL DAN AD/ART.. Begitu dilantik, jangan cuma hafal ruang kerja dan parkiran. Yang pertama dibaca harus: 1). AD/ART dan 2). Board manual. Itu bukan dokumen pajangan. Itu peta ranjau. Salah langkah bisa meledak belakangan. AD/ART itu konstitusi. Isinya garis besar kekuasaan. Siapa boleh apa. Siapa tidak boleh sok kuasa. Jangka panjang. Tidak gampang diubah. Jadi fondasi. Kalau ini saja belum paham, seperti jadi kapten kapal tapi tidak tahu arah utara. Board manual lebih teknis. Ini buku resep hubungan direksi dan komisaris. Kapan harus lapor. Kapan harus minta persetujuan. Batas nilai transaksi. Alur komunikasi. Detail begini yang sering bikin orang terpeleset. Bukan niat jahat. Cuma tidak baca footnote. Masalahnya banyak yang baru buka dua dokumen itu saat sudah diperiksa. Sudah telat. Ibarat baca buku K3 setelah kebakaran. Lengkap. Jelas. Tapi gedungnya sudah hangus. Padahal membaca di awal itu bukan soal rajin. Itu soal selamat. Selamat jabatan. Selamat reputasi. Dan kadang, selamat dari ruang sidang.







