Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
PENEMPATAN DR SPESIALIS GAWAT DARURAT DI UGD: APAKAH SUDAH BENAR-BENAR DIJALANKAN? Ilmu gawat darurat sebenarnya bukan ilmu baru. Tapi spesialisnya relatif muda. PPDS Gawat Darurat sudah ada di beberapa fakultas kedokteran besar. UI. UGM. Unair. Unpad. Juga beberapa kampus lain. Jumlahnya belum banyak. Lulusannya masih ratusan. Bukan ribuan. Jadi wajar kalau belum terlihat di mana-mana. Pertanyaannya bukan sekadar sudah ada atau belum. Tapi ditempatkan di mana. Secara konsep, dokter spesialis gawat darurat memang untuk UGD. Bukan untuk bangsal. Bukan untuk poliklinik. Mereka dilatih mengambil keputusan cepat, lintas disiplin, dalam kondisi tidak ideal. Masalahnya, praktik di lapangan sering beda. Banyak UGD masih diisi dokter muda. Fresh graduate. PPDS jaga malam. Dokter spesialis datang kalau dipanggil. Itu warisan lama. Bukan kesalahan dokter mudanya. Tapi kesalahan sistem. Padahal logikanya sederhana. Kasus ringan seharusnya selesai sebelum masuk UGD. Kasus berat justru harus ditangani dokter paling senior di depan. Bukan yang paling junior. RSUD Tulungagung mencoba membalik logika itu. UGD diisi spesialis gawat darurat. Yang ringan disaring di luar. Itu lebih masuk akal. Lebih aman. Lebih jujur secara klinis. ## Jadi pertanyaannya bukan: Perlu atau tidak? Tapi: Berani atau tidak?
Linggar Baero
Dr. Supriyanto ambil spesialis bedah umum karena di daerahnya keahlian ini yang diperlukan oleh masyakat banyak (nb.dgn tinhkat penghasilan rendah). Alasan yg mirip disampaikan oleh 2 orang teman saya yang anak2 mereka akan ambil spesialis. Satu spesialis bedah jantung, yg satunya lagi spesialis urologi. Saya tanya alasannya: pertama; penderita penyakit ini semakin banyak; kedua (beda dgn alasan dgn dr. Supriyanto) mudah praktik di kota besar dan penghasilannya besar. Manusiawi.
Thamrin Dahlan YPTD
Selamat Dr dr Supriyanto Direktuir RSCM. Kepercayaan Menteri Kesehatan kepada Anda untuk menerapkan sistem Hospital Without Wait. RSCM merupakan Top Reveral (rujukan tertinggi/terakhir) Rumah Sakit Seluruh Indonesia. Ibarat kapal besar memang diperlukan seorang nahkoda trampil membelokkan kapal agar mencapai tujuan pelabuhan idaman. Instalasi Gawat Darurat (IGD) merupakan ukuran apakah Rumah Sakit mampu berhasil ikut menurunkan angka kematian (mortality). Pasien IGD dalam kondisi kesehatan menurun perlu mendapat tindakan pertolongan cepat dan benar. Dokter dan Perawat tugas di IGD wajib memiliki ketrampilan prima kegawat daruatan ditandai sertifikat PPGD (Penanganan Penderita Gawat Darurat), BTCLS (Basic Trauma Cardiac Life Support) dan BLS (Basic Life Support).. Syukurlah Negara hadir di IGD melalui BPJS Kesehatan. Rakyat tak berpunya tidak perlu lagi kuatir harus menyiapkan “Uang Muka” ketika ke IGD> Dahulu kala menjadi momok bagi orang miskin sehingga banyak pasien tidak sempat tertolong. Dalam kapasitas Purnawirawan Kedokteran dan Kesehatan Polri awak memiliki tanggung jawab moral.Mensyiarkan setiap informasi perkembangan kesehatan kepada sejawat bertugas di semua Rumah Sakit Bhayangkara dan Poliklinik Polres. Alhamdulillah Karumkit Bhayangkara bergelar MARS (Magister Administrasi Rumah Sakit). Terima kasih Bapak Men Kes telah melakukan banyak perubahan sistem Pelayanan dari Promotif, Preventif, Therapeutik, Rehabilitasi. 2 tahun lagi RSCM sukses melesatkan HWW.