Lebih lanjut, Pezeshkian mengkritik sikap Amerika Serikat dan Israel yang dinilainya bersifat bermusuhan. Ia menuduh kedua negara tersebut melakukan tekanan ekonomi, memicu konflik, serta secara langsung mendukung kerusuhan di Iran.
“Mereka mengira dengan tindakan ini, mereka dapat mengubah Iran menjadi Suriah atau Libya, tanpa menyadari bahwa mereka tidak memahami realitas, sifat, dan kebesaran rakyat Iran,” katanya, sembari menekankan bahwa “kehadiran luas dan sadar bangsa Iran” telah menggagalkan rencana tersebut.
Ia juga menyinggung pengalaman Iran dalam berinteraksi dengan pihak internasional, termasuk Amerika Serikat dan negara-negara Eropa.
“Kami sedang berdialog dengan Amerika ketika, di hadapan seluruh dunia, mereka melancarkan serangan militer terhadap kami… Dalam interaksi dengan negara-negara Eropa, kami mencapai kesepakatan dan konsensus, tetapi Amerika-lah yang melanggarnya dan tidak mendukungnya,” katanya.
Meski demikian, Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tetap membuka pintu bagi upaya perdamaian. Ia menyatakan kesiapan negaranya “untuk menyambut setiap proses yang mengarah pada perdamaian, ketenangan, dan penghindaran konflik dan perang, dalam kerangka hukum internasional dan sambil sepenuhnya menjaga dan menghormati hak-hak bangsa dan negara.”
Sementara itu, pemerintahan Amerika Serikat menyatakan bahwa semua opsi, termasuk tindakan militer, masih terbuka dalam menghadapi Teheran. Pernyataan tersebut muncul di tengah upaya AS dan Israel untuk mengubah sistem pemerintahan Iran. Para pejabat Iran pun telah memperingatkan bahwa setiap serangan dari AS akan dibalas dengan respons yang “cepat dan komprehensif”.
Sourche: Anadolu







