Secara ilmu kedokteran orang vegetatif ternyata memang bisa melelehkan air mata. Tapi itu bukan datang dari kesadaran. Itu sebuah reflek.
Telinga dan saluran pendengaran memang masih berfungsi. Tapi tanpa kesadaran. Kalau ada air mata meleleh itu bukan karena sadar tentang apa yang dibisikkan tapi itu seperti reflek.
Bahkan jantung bisa berdetak tanpa alat bantu. Tapi semua itu terjadi secara otomatis. Karena batang otak masih hidup.
Setiap istri dan anak menengoknya mereka selalu membisikkan sesuatu. Bertahun-tahun. Saat ulang tahun pun tetap diulangtahuni. Di personal ICU itu.
Akhirnya dari orang vegetatif saya bisa membedakan bahwa reflek itu ternyata di luar kesadaran. Maka negara tidak bisa dipegang oleh orang-orang vegetatif –khawatir program-programnya didasarkan reflek. (Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 11 Januari 2026: Sirrul Cholil
Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
DURIAN, DAILAIL, DAN JALAN TAK DIRESMIKAN.. CHDI hari ini seperti durian Lerpak: kecil-kecil, tapi begitu dibelah, aromanya ke mana-mana. Dimulai dari hujan, banjir, dan jambu air yang kehilangan manisnya, lalu berakhir pada “sirrul”—rahasia yang justru terbuka pelan-pelan. Saya suka cara Pak Dahlan menyatukan hal yang tampaknya tak nyambung: jalan desa yang mulus tapi tak pernah diresmikan, politik yang datang lalu pergi, durian yang tetap setia pada rasanya, dan seorang kiai yang lahir dari kenakalan panjang. Ini kisah tentang proses—bukan instan, bukan pencitraan. Muqtafi tumbuh bukan karena dimarahi, tapi karena diberi kitab kecil. Dalail. Tipis, tapi isinya berat. Seperti durian Madura: dagingnya tak tebal, tapi “kenanya” dalam. Titik balik hidup kadang memang tidak datang dari pidato panjang, melainkan dari satu bacaan yang tepat, di waktu yang tepat. Anak kiai nakal dibiarkan karena anak kiai. Ironi pesantren yang disampaikan tanpa marah, tanpa menggurui. Dan ujungnya manis: cinta, kawin lari, anak wisuda psikologi. Lengkap. Sirrul Cholil pantas disebut “rahasia kekasih”. Tersembunyi, sunyi, tapi justru di situlah maknanya tumbuh.







