“Saya juga kalau ke IKN tidak pernah tidur di hotel, tapi di rusun ASN atau rumah menteri. Air minum di sana juga bisa langsung diminum dari kran,” katanya.
Gibran menegaskan bahwa dirinya merupakan sosok yang fleksibel dan tidak terpaku pada satu lokasi kerja. Ia mengaku siap berkantor di mana saja, termasuk di lapangan atau wilayah terdampak bencana.
“Saya akan biasa di lapangan, jadi tidak ada masalah,” paparnya.
Menurut Gibran, IKN perlahan bergerak menuju kota yang benar-benar hidup. Selain memiliki kualitas udara yang lebih bersih, kawasan tersebut juga dinilai relatif aman dari risiko bencana besar.
Ia menilai pemindahan ibu kota negara bukan sekadar memindahkan kantor pemerintahan, tetapi juga mengubah pola pikir atau mindset dalam membangun peradaban baru.
“Karena itu kan tidak hanya pindah kantor, tapi ini juga soal mindset,” ungkapnya.
Saat ini, lanjut Gibran, pembangunan di IKN tidak hanya fokus pada gedung pemerintahan. Berbagai infrastruktur pendukung juga terus dikembangkan, mulai dari sekolah, perguruan tinggi, pasar, rumah sakit, supermarket, fasilitas olahraga, hingga tempat ibadah.
Bahkan, Gibran memiliki harapan agar masjid di IKN bisa segera difungsikan untuk kegiatan keagamaan dalam waktu dekat.
“Bahkan saya minta nanti masjid di IKN ini bisa digunakan di hari pertama salat tarawih,” pungkasnya.







