Ancaman Retaliasi Uni Eropa
Penundaan persetujuan ini membuka kembali kemungkinan retaliasi dari Uni Eropa terhadap Amerika Serikat. Sebelumnya, Uni Eropa telah menyiapkan daftar barang asal Amerika Serikat senilai sekitar 93 miliar euro yang berpotensi dikenakan tarif balasan sebagai respons terhadap kebijakan tarif AS.
Penangguhan rencana tersebut akan berakhir pada 6 Februari. Jika tidak ada perpanjangan atau persetujuan kesepakatan baru, tarif balasan Uni Eropa akan mulai berlaku sehari setelahnya. Sejumlah pemimpin Eropa, termasuk Presiden Prancis Emmanuel Macron, mendorong Uni Eropa untuk mempertimbangkan seluruh opsi, termasuk penggunaan instrumen anti-paksaan perdagangan.
Tanggapan Amerika Serikat
Dari pihak Amerika Serikat, pejabat tinggi pemerintah memperingatkan Uni Eropa agar tidak melakukan pembalasan. Menteri Keuangan AS menyerukan agar Eropa menahan diri dan membuka ruang dialog. Sementara itu, pejabat perdagangan AS menegaskan bahwa setiap tindakan retaliasi akan direspons secara tegas.
Ketegangan ini terjadi di tengah ketidakpastian hukum di Amerika Serikat terkait legalitas sejumlah tarif yang diberlakukan sebelumnya, yang kini menunggu keputusan Mahkamah Agung.
Kesimpulan
Penundaan persetujuan perjanjian dagang antara Uni Eropa dan Amerika Serikat mempertegas rapuhnya hubungan perdagangan kedua pihak di tengah tekanan politik dan ancaman tarif. Ketidakpastian ini telah memicu gejolak pasar global dan membuka kembali risiko eskalasi konflik dagang antara dua mitra ekonomi terbesar dunia.
Referensi: