Filosofi di Balik Tradisi Beseprah
Beseprah mengandung nilai-nilai luhur yang masih relevan hingga kini. Di antaranya:
- Kesetaraan sosial: Semua duduk sejajar tanpa hierarki.
- Kebersamaan dan gotong royong: Makanan disiapkan dan dinikmati bersama.
- Keterbukaan dan keakraban: Percakapan mengalir bebas di antara peserta.
- Penguatan ikatan sosial: Menyatukan individu menjadi komunitas yang solid.
Karena itulah, beseprah tidak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga menghangatkan hubungan antarmanusia.
Persiapan hingga Pelaksanaan Beseprah
Karena biasanya dilakukan saat pagi hari, persiapan beseprah dimulai sejak sebelum fajar. Skala persiapan bergantung pada besarnya acara. Untuk beseprah keluarga, persiapan dilakukan bersama tetangga. Sementara pada Upacara Erau, masyarakat luas ikut bergotong royong menyiapkan hidangan.
Menu yang disajikan mencerminkan kekayaan kuliner Kutai, seperti:
- nasi kebuli, nasi kuning, dan nasi putih,
- gence ruan (ikan gabus goreng dengan sambal khas),
- semur, bubur, dan ubi goreng,
- aneka kue tradisional seperti serabi, putu labu, roti gembong, dan untuk-untuk,
- serta buah-buahan segar.
Hidangan disusun di atas seperah, kain putih panjang yang menjadi alas makanan, dilengkapi tampah, piring, dan alat makan yang dapat digunakan siapa saja.
Sebelum makan dimulai, biasanya terdengar lantunan musik tradisional untuk memeriahkan suasana. Setelah seluruh tempat duduk terisi, tuan rumah memberi aba-aba, dan acara makan pun dimulai. Beseprah berlangsung sekitar 1,5 hingga 2 jam dalam suasana penuh kehangatan.
Beseprah dalam Upacara Erau
Dalam konteks adat, beseprah menjadi bagian tak terpisahkan dari Upacara Erau. Lokasi beseprah biasanya membentang di sepanjang Jalan Tepian Pandan, depan Museum Mulawarman, Tenggarong.
Kain seperah sepanjang hampir satu kilometer digelar, menjadi tempat berkumpulnya pejabat, tokoh adat, dan masyarakat umum. Acara diawali doa bersama, dilanjutkan pemukulan gong oleh Sultan sebagai tanda dimulainya beseprah.
Di momen ini, sekat sosial benar-benar melebur. Semua orang makan, berbincang, dan tertawa bersama dalam satu ruang kebudayaan yang hidup.