IKNPOS.ID – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) terus menggenjot upaya pemulihan ekosistem mangrove di Kalimantan Timur dengan memanfaatkan pendekatan Mandara (Mangrove Data Nusantara). Mandara merupakan platform terpadu yang dirancang untuk mendukung perumusan kebijakan, kegiatan riset, hingga implementasi rehabilitasi mangrove di lapangan.
Penelaah Teknis Kebijakan Direktorat Rehabilitasi Mangrove Kemenhut RI, Agung Rusdiatmoko, menjelaskan bahwa Mandara dikembangkan melalui metode partisipatif dengan menghimpun berbagai sumber data, mulai dari kementerian dan lembaga terkait, perguruan tinggi, hingga referensi internasional. Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan di Samarinda, Kamis.
Menurut Agung, penggabungan data dalam satu sistem menjadi faktor penting untuk memperkuat tata kelola rehabilitasi mangrove. Selama ini, data mangrove tersebar dengan variasi luas dan sumber yang berbeda, sehingga Mandara dihadirkan sebagai solusi integrasi informasi dalam satu wadah nasional.
Ia menambahkan, pengembangan platform Mandara sejalan dengan tujuan program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) yang menekankan aspek keberlanjutan, pemulihan ekosistem, inovasi, konservasi, serta kolaborasi lintas sektor.
Mandara dibangun dengan mengedepankan prinsip ketepatan dan verifikasi data, berbasis kondisi lapangan, melibatkan berbagai sektor, mengacu pada Peta Mangrove Nasional, serta dirancang untuk digunakan secara nasional.
Sebagai bagian dari penguatan implementasi, Kemenhut secara aktif melakukan sosialisasi Mandara, salah satunya melalui Forum Mandara yang digelar pada 26–27 Januari 2026 di Samarinda, Kalimantan Timur. Kegiatan ini bertujuan mendukung pengambilan kebijakan, penelitian, serta pelaksanaan program rehabilitasi mangrove.
Selain itu, sosialisasi Mandara juga diselaraskan dengan pembahasan teknis program Percepatan Rehabilitasi Mangrove M4CR Kalimantan Timur tahun 2026. Kegiatan tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk lembaga terkait, pemerintah daerah, Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD), kalangan akademisi, hingga mitra pelaksana.







