Di rombongan ini juga ada seorang wanita sangat muda. Masih jomblo. Namanyi Rizqi Laila Rohma. Dari Ringinrejo, Kediri. Bisnisnyi: SiniNgaji. Dia membuka pelajaran mengaji Quran online.
Jumlah siswanyi: 6000 orang. Guru ngajinyi sudah 250 orang. Masih begitu muda sudah bisa menggaji 250 guru ngaji.
Hari itu, kumpul mereka, saya ketularan optimistis. Juga merasa kembali seumur dengan mereka.(Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 26 Januari 2026: Stres Debanking
Ciga Sama
Kalimat itu, jika dibedah kata demi kata, memang BUKAN janji. Bahkan AI pun akan berkata begitu. Persis jawaban murid SD Internasional melihat Bowie AI: lurus, patuh tata bahasa, taat tanda jika. Namun cerita berubah ketika kalimat itu diucapkan saat KAMPANYE. Di sana, AI yang sama akan mengangguk pelan dan berkata: ini janji. Sebab konteks lebih keras suaranya daripada kamus. Dan kampanye bukan ruang ujian bahasa, melainkan tempat harapan digantungkan. Saya bertanya ke AI bukan untuk mencari pembenaran, tapi karena—untuk sementara—ia masih dianggap netral: otomatis, cerdas, dan tak ikut mencoblos.
Ja’far Syahidan
mengikuti alur berpikir logis @murid sd internasional, memang akan memberikan posisi sulit, bagi para penyerang gibran. apabila kalimat “jika + insya allah” dimaknai sebagai “janji”, maka konsekuensinya, seluruh ustadz / kyai / ulama / insan orang biasa, yg rutin / sering menggunakan struktur kalimat “jika + insya allah”, harus kita sebut sebagai “para tukang pengobral janji”, yg apabila “janjinya” tersebut kemudian tidak terlaksana karena hal-hal yg di luar kuasanya, maka sosok-sosok tersebut harus kita sebut sebagai “para pengingkar janji”, lalu ke sananya secara otomatis mereka akan terkena label “munafik”, dan orang munafik tempat tinggalnya di akhirat adalah di “neraka”. sedangkan apabila kalimat “jika + insya allah” tidak dianggap sebagai “janji”, maka seluruh serangan dan kritik terhadap gibran dalam urusan 19 juta lapangan kerja, menjadi kehilangan legitimasinya. ini namanya, maju kena, mundur kena. dianggap “janji”, jadi simalakama bagi dirinya sendiri. tidak dianggap “janji”, jadi kehilangan pijakan untuk menyerang wapres RI. mungkin akan lebih relevan, kalau serangan kritik untuk wapres, benar-benar lebih berbasis fakta objektif, misal : “kenapa program lapor mas wapres kini hilang?”, atau .. “kenapa usaha markobar milik mas wapres kini tidak berkembang, padahal itu bisa jadi pintu masuk tenaga kerja se-indonesia?” di titik ini, saya pribadi lebih melihat @murid sd internasional sebagai sebenar-benar pendidik literasi, tinimbang buzzer bayaran.







