Sektor Pertanian Ikut Melambat
Tak hanya konstruksi, sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, dan perikanan juga mengalami perlambatan pertumbuhan pada kuartal III/2025.
Lapangan usaha pertanian hanya tumbuh 7,97 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 8,66 persen (yoy). Perlambatan ini terutama disebabkan oleh penurunan produksi tandan buah segar (TBS) kelapa sawit, yang berdampak langsung pada turunnya produksi crude palm oil (CPO) di sektor industri pengolahan.
Nilai Tukar Petani Tertekan
Sejalan dengan penurunan produksi, Nilai Tukar Petani (NTP) subsektor perkebunan juga mengalami penurunan. Namun tekanan tidak berhenti di situ.
“Hampir seluruh subsektor pertanian mengalami penurunan NTP,” ungkap Jajang.
Kontraksi terdalam justru terjadi pada subsektor perikanan dan hortikultura, yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi masyarakat pesisir dan pedesaan.
Ekspor Perikanan Turun Tajam
Pada subsektor perikanan, tekanan datang dari sisi eksternal. Ekspor perikanan Kalimantan Timur anjlok hingga 39,26 persen (yoy) pada periode laporan.
Kondisi ini mengindikasikan melemahnya daya saing produk perikanan lokal di pasar global, baik akibat faktor harga, permintaan internasional, maupun efisiensi produksi.
Sementara itu, penurunan NTP subsektor hortikultura berkorelasi erat dengan lonjakan inflasi tahunan pada sejumlah komoditas strategis seperti bawang merah, cabai merah, dan tomat di kuartal III/2025.
Ironisnya, kenaikan harga di tingkat konsumen justru terjadi bersamaan dengan penurunan kesejahteraan petani. Hal ini mengindikasikan adanya keterbatasan pasokan akibat penurunan produksi di tingkat hulu.
“Fenomena ini menunjukkan bahwa tekanan pasokan masih menjadi tantangan utama di sektor pertanian,” tutup Jajang.






