Harun optimis bahwa sistem ini bakal menjadi rujukan nasional. Keberhasilan implementasi waste to energy di IKN diharapkan memicu pemerintah daerah lain untuk segera mengadopsi teknologi serupa. Dengan populasi yang terus meningkat, kapasitas pengolahan ini akan terus optimal guna mendukung keberlanjutan hidup di ibu kota baru tersebut.
Dampak Sosial: Berdayakan Warga Lokal
Menariknya, kehadiran infrastruktur canggih ini tidak meminggirkan warga sekitar. Project Officer Direktorat PGKP, Alifriyanto, menegaskan bahwa operasional TPST 1 melibatkan penduduk lokal sebagai tenaga kerja utama. Hal ini menciptakan multiplier effect yang positif bagi ekonomi masyarakat di kawasan Nusantara.
“Kami merancang TPST 1 KIPP IKN dengan melibatkan warga sebagai tenaga kerja. Jadi, manfaatnya tidak hanya soal lingkungan, tapi juga kesejahteraan sosial. Kami juga ingin fasilitas ini memicu perubahan perilaku masyarakat agar lebih bertanggung jawab dalam membuang sampah,” kata Alifriyanto menjelaskan.
Komitmen Keberlanjutan Otorita IKN
Sesuai mandat Keputusan Kepala Otorita IKN, Direktorat Pengelolaan Gedung, Kawasan, dan Perkotaan (PGKP) memegang kendali penuh dalam pengawasan dan pengendalian operasional. Sementara itu, PT Bina Karya bertindak sebagai eksekutor teknis di lapangan yang memastikan seluruh mesin bekerja maksimal tanpa kendala.
Inovasi pengelolaan sampah berbasis energi ini menegaskan posisi IKN sebagai pelopor kota hijau. Dengan mengubah masalah menjadi solusi, IKN membuktikan bahwa pembangunan berkelanjutan bukan sekadar jargon, melainkan realitas yang sedang berjalan. Kini, mata dunia tertuju pada bagaimana Nusantara mengelola setiap butir sampahnya menjadi tenaga bagi kehidupan masa depan. (*)





















