Catatan Dahlan Iskan

Hitung Mundur

Share
Zohran Mamdani saat membacakan sumpah di pelantikan yang dilakukan di bekas stasiun kereta bawah tanah New York.--
Zohran Mamdani saat membacakan sumpah di pelantikan yang dilakukan di bekas stasiun kereta bawah tanah New York.--
Share

ZOHRAN Mamdani baru saja selesai mengucapkan sumpah jabatan. Ia masih di depan mikrofon. Penagih dari Pemkot New York mendatanginya.

“Anda harus membayar sembilan dolar,” ujar Michael McSweeney, petugas clerk tersebut.

Wali Kota baru New York itu pun langsung merogoh saku di balik jas hitamnya. Ia mengambil sejumlah uang lembaran. Kelihatannya satu lembar lima dolaran dan empat lembar satu dolaran.

Itulah uang administrasi yang harus dibayar pribadi Zohran sebagai wali kota baru. Yakni uang untuk biaya mengarsipkan dokumen pelantikannya itu.

Zohran tidak menerima kuitansi. Atau tanda terima apa pun. Selesai membayar itu petugas lain mendatanginya. Menyodorkan buku pendaftaran yang harus ia tanda tangani. Zohran pun membubuhkan tanda tangan di situ.

“Kini Anda resmi jadi wali kota,” ujar petugas tersebut sambil menutup buku.

Pelantikan itu sangat simpel. Tempatnya pun di bekas stasiun kereta bawah tanah. Di bagian tangganya.

Waktunya, Anda sudah tahu: tepat setelah hitungan mundur datangnya tahun baru mencapai kata ”nol”. Itulah saatnya datang pergantian tahun. Juga saatnya datang wali kota New York yang baru. Maka hanya di New York salah satu petugas pelantikan yang harus ada adalah: petugas yang melakukan hitung mundur.

Stasiun bawah tanah City Hall itu sendiri sudah lama ditutup. Yakni sejak malam pergantian tahun: 31 Desember 1945. Penyebabnya: sudah dianggap terlalu sempit. Arus manusia yang menggunakannya sudah terlalu padat. Maklum, itulah stasiun pusat kota. Di dekat balai kota.

Sebenarnya terlalu indah stasiun City Hall untuk ditutup. Seindah stasiun kereta api di kota Washington DC. Atau di pusat kota Paris. Atapnya melengkung bermozaik indah. Gaya arsitekturnya adalah Beaux-Arts. Beaux Anda sudah tahu: bahasa Prancis yang artinya cantik.

Meski stasiunnya ditutup tapi jalur rel kereta bawah tanahnya masih dipakai. Hanya saja keretanya tidak lagi berhenti di situ. Cahaya di situ yang dulunya gemerlap juga dimatikan. Ketika kereta Anda melewati stasiun itu Anda tidak merasakan sedang lewat di bekas stasiun yang bersejarah.

Share
Related Articles
Mati Kekenyangan
Catatan Dahlan Iskan

Mati Kekenyangan

Oleh: Dahlan Iskan Kalau di Tarim ziarah orang ke makam seribu wali,...

tiga-huruf
Catatan Dahlan Iskan

Tiga Huruf

Oleh: Dahlan Iskan Pindah dari Tarim ke Kairo seperti pergi dari satu...

Catatan Dahlan Iskan

Produksi Massal

Oleh: Dahlan Iskan Malam sebelum meninggalkan Tarim --menuju Al Azhar, Kairo-- saya...

Catatan Dahlan Iskan

Puncak Gunung

Oleh: Dahlan Iskan Sampai kapan Tarim bisa bertahan dengan konservatifisme Islamnya? Soal...