“Semua itu hasil kerja anak laki-laki saya,” ujar Hady. Dari tiga anak, Hady punya satu yang laki-laki: Alan Karyono. Ia lulusan Amerika Serikat. Jabatan Alan: managing director di Borwita.
Alan Karyono (kanan).–
Jabatan Dirut memang masih di pegang sang pendiri. “Tapi semua hal sudah Alan yang menangani,” ujar Hady.
Hady sendiri mulai belajar kerja sejak putus sekolah: SMA Xinzhong ditutup ketika Hady baru setahun sekolah di situ.
Tahun itu seluruh sekolah Tionghoa di Indonesia harus tutup. Hady pun pilih langsung bekerja. Yakni di toko obat milik pamannya.
Tugas pertama Hadi di gudang. Pekerjaannya bungkus-bungkus obat yang akan dikirim ke pemesan. Kalau kebetulan karyawan di bagian pengiriman tidak masuk Hady yang kirim barang. Pakai sepeda.
Papanya sendiri punya toko obat: di Pasar Atom lama. Ia ingin toko papanya maju. Ia usulkan banyak perubahan. Papanya tidak setuju. “Akhirnya saya bikin toko sendiri,” kata Hady.
Hadi pun kerja keras. Usahanya maju. Sampai bisa mendirikan PBF –Pedagang Besar Farmasi. Sampai punya pabrik tetes mata yang Anda sudah pakai: Aito. Sampai menjadikan Borwita seperti sekarang ini.
Alan masih akan mengembangkan Borwita ke bisnis makanan siap saji. Yakni makanan khas Indonesia. Ups…bukan baru “akan”. Alan sudah memulainya. Dimulai dari rendang. Lalu kare. Lalu lain-lainnya.
Yang menarik, makanan itu tidak perlu dipanasi dulu. Bisa langsung dimakan.
Di usianya sekarang ternyata Hady punya kegemaran yang sama dengan saya: olahraga pagi. Satu jam. Bedanya, saya di halaman terbuka di Rumah Gadang, ia di gym hotel berbintang.
Bedanya lagi: ia sudah melakukan itu sejak muda. Sejak hotel itu masih bernama Hyatt. Sedang saya baru hijrah 12 tahun terakhir. (Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 24 Januari 2026: Belah Tiga
Nusantara Hijau
Pacaran sama Amerika.
Selingkuh ke China.
Dilirik Eropa.
Perawan Cantik Nusantara yang kehilangan orangtua (Kerajaan).
Diadopsi secara paksa oleh orangtua angkat yang disebut Republik.
Hingga leluasa diperkosa sana sini.







