Home Ragam Gebrakan Arsitek Kelas Dunia: Mengapa ASEAN Harus Mulai ‘Sentuh Bumi dengan Lembut’?
Ragam

Gebrakan Arsitek Kelas Dunia: Mengapa ASEAN Harus Mulai ‘Sentuh Bumi dengan Lembut’?

Share
Gebrakan Arsitek Kelas Dunia: Mengapa ASEAN Harus Mulai "Sentuh Bumi dengan Lembut"?
ASEAN mulai adopsi filosofi Glenn Murcutt "Touch This Earth Lightly". Arsitektur masa depan kini fokus pada keberlanjutan dan material hijau.
Share

Kolaborasi regional ini menjadi sangat vital bagi komunitas arsitek di kawasan. Arsitek senior Indonesia, Budi Pradono, menyebutkan bahwa aliansi strategis ini akan memacu para perancang bangunan untuk berani melahirkan karya yang berdampak besar. Bukan sekadar mengejar tren global, namun menciptakan solusi nyata untuk masalah iklim tropis yang unik di setiap negara ASEAN.

Baja Modern: Sang Penyelamat Ekonomi Sirkular

Salah satu poin yang cukup mengejutkan dalam pertemuan tersebut adalah perubahan status material baja. Jika dulu baja dianggap kaku dan panas, kini material baja berlapis modern dipandang sebagai solusi utama arsitektur berkelanjutan. Baja bukan lagi sekadar material konstruksi, melainkan medium untuk mewujudkan keharmonisan antara penghuni bangunan dengan lingkungannya.

Jenny Margiano, Country President PT NS BlueScope Indonesia, menjelaskan bahwa baja modern sangat klop dengan prinsip ekonomi sirkular. Material ini tangguh menghadapi cuaca ekstrem namun fleksibel untuk didaur ulang hingga 100% tanpa kehilangan kualitasnya. Kemampuannya mendukung ventilasi alami dan ketahanan terhadap gempa menjadikan baja pilihan paling masuk akal bagi arsitek yang ingin membangun masa depan yang aman namun tetap ramah lingkungan.

Steel Architectural Awards ASEAN 2026: Menantang Kreativitas Arsitek Lokal

Untuk membumikan visi ini, program Steel Architectural Awards ASEAN 2026 resmi diluncurkan. Kompetisi ini membuka peluang besar bagi karya-karya inovatif di sektor hunian, komersial, hingga infrastruktur dari seluruh penjuru Asia Tenggara. Penilaian tidak akan terbatas pada keindahan fasad semata, melainkan sejauh mana proyek tersebut mampu menjawab tantangan lingkungan di lokasinya berada.

Para juri yang terdiri dari praktisi dan akademisi terkemuka, seperti Firman Setia Herwanto (Wakil Ketua IAI) dan Asae Sukhyanga (Presiden ASA), akan menyeleksi karya yang benar-benar mewujudkan visi masa depan yang tangguh. Inilah saatnya bagi para arsitek muda Indonesia untuk membuktikan bahwa mereka bisa menciptakan struktur yang megah namun tetap “menyentuh bumi dengan lembut”.

Menghubungkan Warisan Budaya dengan Teknologi Masa Depan

Masa depan kota-kota di ASEAN bergantung pada kemampuan kita menyeimbangkan modernitas dengan kelestarian alam. Seperti yang ditekankan oleh Steve Woodland dari COX Architecture, teknologi material hari ini harus mampu menjawab kebutuhan yang semakin kompleks. Dengan pendekatan yang tepat, bangunan kita tidak hanya akan bertahan lama, tetapi juga menjadi warisan yang berharga bagi generasi mendatang.

Share
Related Articles
Bank Syariah Nasional
Ragam

Agresif! BSN Resmi Ekspansi ke Ekosistem Ekonomi Muhammadiyah

IKNPOS.ID - PT Bank Syariah Nasional (BSN) mulai melancarkan aksi ekspansi bisnis...

BSI
Ragam

Perkuat Ekosistem Ziswaf, BSI dan HokBen Berbagi Kebahagiaan Ramadan Bersama 4.500 Anak Yatim

IKNPOS.ID - Memasuki bulan suci Ramadan 1447 H, PT Bank Syariah Indonesia...

Bank BTN
Ragam

Januari 2026, Laba Bersih BTN Meroket di Atas 500%

IKNPOS.ID - Mengawali tahun kuda api, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk...

Bank BTN
Ragam

BTN Economic Outlook 2026: Investasi Terarah, Bangun Legacy

IKNPOS.ID - Wakil Direktur Utama BTN Oni Febriarto Rahardjo (tengah) berfoto bersama...