IKNPOS.ID – Kawasan Asia Tenggara saat ini tengah menjadi panggung raksasa bagi pembangunan infrastruktur yang super agresif. Urbanisasi yang melesat cepat memaksa kota-kota besar untuk terus bersolek demi pertumbuhan ekonomi. Namun, di tengah kepungan hutan beton, muncul sebuah peringatan serius dari para pakar desain global: Apakah kita sedang membangun peradaban atau justru sedang menghancurkan masa depan lingkungan kita sendiri?
Jangan sampai kita terjebak dalam ambisi buta. Saat ini, para arsitek terkemuka sedang mengarahkan kiblat pembangunan ke sebuah filosofi mendalam: “Touch this earth lightly” atau sentuhlah bumi ini dengan lembut. Konsep ini bukan sekadar slogan hijau biasa, melainkan panduan hidup agar bangunan modern di ASEAN tetap bisa selaras dengan alam tanpa harus mengorbankan identitas lokal di tengah ancaman krisis iklim yang makin nyata.
Inspirasi Glenn Murcutt: Bangun Tanpa Merusak Alam
Prinsip “Touch this earth lightly” merupakan warisan pemikiran dari Glenn Murcutt, arsitek legendaris Australia yang berhasil meraih Pritzker Architecture Prize—penghargaan tertinggi setara Nobel di bidang arsitektur. Menurut Murcutt, bangunan yang ideal seharusnya tidak mencoba menaklukkan alam, melainkan menari bersamanya. Di ASEAN, di mana diprediksi ratusan juta orang akan memadati kota pada 2030, filosofi ini menjadi sangat mendesak untuk segera kita terapkan.
Wilayah Asia Tenggara merupakan salah satu titik paling rawan terhadap perubahan iklim, mulai dari kenaikan permukaan laut hingga gelombang panas yang membakar. Kita tidak lagi bisa mengandalkan metode “bangun, hancurkan, bangun kembali” yang boros energi. Kita butuh struktur yang tidak hanya estetik, tetapi juga adaptif dan memiliki jejak karbon seminim mungkin. Inilah momentum bagi industri desain untuk berevolusi.
Simposium Jakarta 2026: Mencari Formula Arsitektur Tangguh
Dalam forum simposium arsitektur ASEAN bertajuk “Shaping Resilient Futures” di Jakarta, sebanyak 190 ahli dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Australia berkumpul untuk satu misi besar. Mereka membedah bagaimana filosofi “sentuhan lembut” bisa masuk ke dalam konteks budaya lokal yang beragam. Arsitek Nick Sissons dari Glenn Murcutt Architecture Foundation menegaskan bahwa masa depan arsitektur harus berakar pada kearifan lokal agar bangunan memiliki jiwa.







