“Banyak orang yang sebenarnya sudah mengetahui dirinya terkena kusta, tetapi memilih menyembunyikannya karena takut terhadap konsekuensi sosial,” ujar Ansori.
Ia menambahkan bahwa stigma dan diskriminasi membuat penderita enggan berobat, sehingga berdampak pada keterlambatan deteksi dan proses penyembuhan.
Sementara itu, WHO Goodwill Ambassador for Leprosy Elimination, Yohei Sasakawa, menyebut Indonesia memiliki peran penting dalam upaya penanganan kusta secara global.
“Eliminasi kusta tidak hanya tentang pengobatan medis, tetapi juga tentang menghapus stigma dan memulihkan martabat manusia,” kata Sasakawa.







