Sementara itu, Kementerian Perhubungan juga menyatakan bahwa seluruh faktor, termasuk cuaca, kondisi pesawat, serta aspek operasional, akan dianalisis secara menyeluruh oleh KNKT sebelum kesimpulan akhir diumumkan ke publik.
Insiden ini kembali mengingatkan bahwa cuaca ekstrem, terutama awan Cumulonimbus, merupakan salah satu tantangan terbesar dalam keselamatan penerbangan di wilayah tropis seperti Indonesia. Awan jenis ini sering berkembang cepat dan sulit diprediksi secara visual tanpa dukungan radar dan satelit.
Publik kini menantikan hasil investigasi KNKT untuk memastikan apakah faktor cuaca, termasuk awan Cb, memiliki peran signifikan dalam kecelakaan ATR 42-500 tersebut, ataukah terdapat faktor lain yang lebih dominan.