Catatan Dahlan Iskan

Tenda Perusuh

Share
Tenda Perusuh
Share

Kalau mau punya mobil nasional haruslah mobil listrik. Kesempatan masih terbuka –untuk jadi tuan rumah di mobil listrik. Saat itu –15 tahun lalu?– seluruh dunia baru mulai mencoba bikin mobil listrik. Semua masih coba-coba.

Kami pun mencoba. Hasilnya mobil hijau itu. Berhasil. Saya mencoba mengendarainya dari Depok ke kantor BPPT di Jalan Thamrin. Tanpa AC. Diisi empat orang. Ketika berhasil sampai di Semanggi, betapa bangga hati kami. Mobil listrik buatan Indonesia bisa melaju dari Depok sampai Semanggi Jakarta. Tinggal beberapa kilometer lagi sampai tujuan: kantor BPPT di Jalan Thamrin.

Tapi, begitu sampai bundaran HI, sudah terasa baterai akan habis. Doa pun kami lipat gandakan: semoga bisa sampai BPPT. Tinggal kurang satu lemparan batu lagi!

Doa tidak terkabul. Kurang beberapa puluh meter dari BPPT mobil sudah tidak bisa dipaksa jalan. Kami pun meminggirkan mobil. Agar tidak mengganggu lalu lintas.

Kalau saja hanya diisi tiga orang pastilah tidak kehabisan listrik di jalan. Tapi namanya saja uji coba. Bukan pencitraan. Harus apa adanya.

Tentu kami malu. Tapi bangga. Saya sudah tahu akan banyak yang mencibirkannya. Saya tetap tersenyum. Pun saat turun dari mobil itu.

Apa pun Kang Dasep sudah membuktikan bisa membuat mobil listrik. Bengkel Kang Dasep memang sederhana –tapi sudah punya mesin NCR. Tapi saya pun tahu mobil listrik Geely, di Tiongkok, dimulai dari bengkel yang lebih jelek dari bengkel Kang Dasep.

Kini Geely merajai dunia. Termasuk mampu mengambil alih pabrik mobil Volvo milik Swedia. Itulah bedanya: Tiongkok kini jadi raja mobil listrik dunia. Indonesia kembali jadi konsumen mobil listrik –termasuk mobil listrik made in Vietnam!

Tentu di dinding gedhek itu juga kami pasang mobil listrik Indonesia generasi kedua: Tucuxi. Warna merah itu. Yang nyaris mencabut nyawa saya: mobil itu saya tabrakkan ke tebing batu di dekat Sarangan. Yakni saat saya melakukan uji coba mengemudikannya dari Solo menuju kampung saya di Pesantren Sabilil Muttaqin, Takeran, Magetan. Remnya blong di turunan tajam setelah Sarangan.

Share
Related Articles
Catatan Dahlan Iskan

Berpisah Istri

Oleh: Dahlan Iskan Saya berpisah lagi dengan istri: di Makkah. Hampir selalu...

Imron Djatmika
Catatan Dahlan Iskan

Imron Djatmika

Oleh: Dahlan Iskan Inilah dua orang yang tahu kapan harus berhenti jadi...

FDI Purbaya
Catatan Dahlan Iskan

FDI Purbaya

Oleh: Dahlan Iskan Konkret saja. Saya mencoba inventarisasikan apa saja yang jadi...

Catatan Dahlan Iskan

Guinness Patrick

Oleh: Dahlan Iskan Selain Bahlil ada lagi orang hebat dari Fakfak: Patrick...