Catatan Dahlan Iskan

Anwar Ali

Share
Share

Saya tahu tidak boleh lama-lama berbincang. Ia sudah harus ke masjid besar yang terlihat dari rumahnya. Masjid itu ia yang membangun. Ia tidak pernah absen salat lima waktu di masjid itu.

Ia praktis tidak pernah bepergian. Belum pernah pergi ke Tiongkok.

“Kenapa selalu pilih naik sepeda motor?”.

Ia hanya terkekeh. Ia bercerita memang banyak orang yang mengingatkannya: jangan selalu naik motor sendirian seperti itu. Nanti dirampok.

Ia justru menjawab: apanya yang dirampok. Di saku saya hanya selalu ada uang Rp20.000, cukup untuk isi bensin. Mau ambil motor saya? “Ini motor butut. Siapa yang mau,” katanya.

Ia bercerita bagaimana awalnya menjadi kaya. “Jual beli kopra,” katanya. Dan itu tidak mudah. Morowali, seperti umumnya Sulteng dan Sulut, adalah penghasil kopra. “Untuk dagang kopra saya harus naik kapal layar dari sini ke Surabaya,” kisahnya.

Kapal itu kecil. Terombang-ambing laut yang amat luas. Dari pantai Wosu harus memutar jauh ke bawah. Lewat Buton. Baru ke arah barat menuju Surabaya. Begitu kecilnya kapal itu: hanya bisa mengangkut 1,5 ton kopra.

Dua kali setahun ia menundukkan gelombang laut seperti itu.

Tapi harga kopra memang seperti emas kala itu. Eka Tjipta Wijaya, misalnya, menjadi konglomerat juga berangkat dari dagang kopra. Ketika harga emas baru Rp1.500/gram, harga kopra Rp350/kg. Empat kilogram kopra bisa beli emas satu gram. Sekarang harga kopra Rp20.000/kg. Harga emas Rp2.000.000/gram.

Saya tidak berlama ngobrol dengan orang hebat di Morowali itu. Waktu salat Asar kian dekat. Saya pun pamit. Dari mobil saya lihat: ia sudah naik motornya. Menuju masjid. Ngebut. Saya sampai ketinggalan momentum untuk memotretnya.

Umur 83 tahun, dengan telapak kaki kanan dibalut, ia masih bisa ngebut. “Ini gara-gara sepak bola waktu muda,” katanya sewaktu ngobrol tadi.

Sebelum pamit saya motret rumah di depan rumahnya itu. Motretnya dari rumah Moh Ali. Saya lihat pilar tinggi di teras rumah Moh Ali bisa untuk foreground foto rumah di depannya itu. Dengan demikian saya bisa memotret rumah ayah-anak ini dalam satu bingkai foto yang bagus: rumah di depan itu adalah rumah Ahmad Ali, anak Moh Ali.

Share
Related Articles
Catatan Dahlan Iskan

Mati Efisien

Oleh: Dahlan Iskan Justru saya yang mereka sebut sebagai petir. Yakni saat...

Lebaran Rezeki
Catatan Dahlan Iskan

Lebaran Rezeki

Tidak habis-habisnya saya minta maaf di sepanjang jalan. Tamu-tamu saya itu tidak...

Pulang Kotor
Catatan Dahlan Iskan

Pulang Kotor

Oleh: Dahlan Iskan Akhirnya saya bisa berlebaran bersama keluarga: berkat Lebarannya mundur...

Hari Kemenangan?
Catatan Dahlan Iskan

Hari Kemenangan?

Oleh: Dahlan Iskan Tidak hanya saya yang tidak bisa kumpul keluarga di...