Kholid setuju dengan ide itu. Dibangunlah pabrik di Jeddah. Lokasinya hanya sekitar 500 meter dari pabrik kopi Kapal Api Wazaran.
Apakah pabrik sarungnya masih diurus?
Tidak saja masih diurus! Bahkan juga dikembangkan. Kholid tiga tahun lalu mengambil alih pabrik sarung merek Gadjah Duduk. Yang di Pekalongan itu. Tahun itu Gadjah Duduk pailit. Dilelang. Kholid ikut lelang. Menang.
Sebagai satu-satunya anak yang tidak boleh kuliah oleh ibunya, Kholid tidak sakit hati. Perintah ibu dianggapnya berkah. Apalagi latar belakang perintah itu jelas: agar Kholid membantu di toko sarung ayahnya yang sudah tua.
Ketika sang ayah meninggal dunia, perusahaan pun dimiliki bersama delapan bersaudara. Hanya saja Kholid menjadi pemegang saham terbesarnya: 40 persen. Sisanya dibagi rata untuk tujuh orang. Termasuk untuk dua anak perempuan yang semuanyi jadi dokter gigi.
“Biar pun anak perempuan bagiannyi sama. Kami tidak menjalankan ketentuan bahwa anak perempuan dapat separo anak laki-laki,” ujar Kholid.
Itulah sebabnya delapan bersaudara itu tetap rukun. Saya tidak bertanya bagaimana Wazaran Group di tangan generasi ketiga kelak. Kapal Api sudah berproses beralih ke generasi ketiga.
Mitos ”generasi ketiga menghancurkan” kini sedang dilawan oleh generasi ketiga Kapal Api. Pendidikan mereka kian tinggi. Kian modern. Kian banyak cara yang ditemukan agar di tangan generasi ketiga mereka tetap jaya –seperti tekad partner Kholid di Kapal Api. (Dahlan Iskan)




















