Tidak semuanya lancar. Di zaman Menteri Perikanan Susi Pudjiastuti, bisnis ikannya terganggu. Pabriknya di Bitung sampai ditutup.
Kholid tidak menyerah. Ia ingin pindah ke Cirebon. Ia bangun pabrik pengolahan tuna di Cirebon.
“Membangun pabrik tuna di Cirebon tidak masuk akal tetapi harus saya lakukan,” ujar Kholid.
Tunanya diambil dari Bitung. Dibawa ke Cirebon. Lalu diekspor ke Jepang melewati laut dekat Bitung.
Sebelum pabrik Cirebonnya beroperasi menteri perikanannya ganti. Peraturan berubah. Pabriknya yang di Bitung dijalankan lagi. Sampai sekarang. Investasi barunya di Cirebon tidak dilanjutkan –meski sudah telanjur keluar uang banyak.
“Apakah punya niat membangun pabrik mie dengan merek sendiri?” tanya saya sambil makan siang serba kambing di Jeddah usai peresmian Kapal Api Wazaran. Di meja makan itu ada Soedomo Mergonoto, pemilik Kapal Api dan Novi Basuki, redaktur Harian Disway.
“Tidak ada. Kan tidak etis,” jawabnya.
Meski sudah mengetahui dengan detail soal mie, untuk bisnis bidang itu ia akan tetap bersama Bogasari dengan Indomie, Supermi, dan Sarimi-nya.
Kini ia sudah 40 tahun menjalankan pabrik Indomie di Saudi. Sudah tahu A sampai Z. Pun soal selera rasanya. Tapi Kholid tidak akan melakukannya sendiri.
Riwayat Kholid di bisnis mie juga sangat natural. Awalnya dari coba-coba dulu. Ia beli Indomie dari koperasi karyawan Bogasari di Surabaya. Ia kirim mie itu ke Arab Saudi. Awalnya hanya kirim 100 kardus. Dikirimnya bersama sarung cap Mangga.
Kholid dapat pasar di sana. Lama-lama bisa kirim Indomie satu kontainer. Tiga kontainer. Lima kontainer.
“Sampai akhirnya saya tidak bisa beli Indomie lagi di koperasi karyawan Bogasari Surabaya,” ujar Kholid.
Padahal dengan kulakan lewat koperasi ia bisa dapat harga lebih murah. Tapi setelah itungan kontainer, koperasi tidak bisa melayani.
Sejak itulah Kholid berhubungan dengan Indomie pusat di Jakarta. Ekspornya pun terus bertambah. Lalu Kholid mengusulkan agar Indomie bikin pabrik di Saudi.
Usul itu tidak disetujui. Dianggap terlalu berisiko. Indomie punya ide lain: kenapa tidak Kholid saja yang membangun. Pakai sistem royalti. Bayar royalti ke Indomie.




















