IKNPOS.ID – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menjadi pusat perhatian setelah membagikan video yang menimbulkan kontroversi luas. Dalam unggahan di akun Truth Social miliknya pada 18 Oktober 2025, Trump menampilkan dirinya mengenakan mahkota, mengemudikan jet tempur bertuliskan “KING TRUMP”, sambil menjatuhkan cairan coklat ke arah demonstran dari gerakan “No Kings”. Video berdurasi 19 detik ini muncul bersamaan dengan aksi protes besar-besaran di berbagai kota AS, menyoroti ketegangan yang memanas terkait kebijakan kepresidenannya.
Selain visual yang provokatif, video ini juga menggunakan lagu legendaris “Danger Zone” karya Kenny Loggins tanpa izin. Musisi tersebut menegaskan bahwa ia tidak pernah memberikan izin penggunaan lagunya dan meminta agar rekaman segera dihapus. Loggins menekankan bahwa musik seharusnya menjadi alat pemersatu, bukan untuk memecah belah masyarakat, dan menyoroti potensi dampak negatif penggunaan karya seni dalam konten kontroversial.
Penggunaan teknologi AI oleh Trump menambah daftar panjang insiden kontroversial yang memanfaatkan kecerdasan buatan untuk kepentingan politik. Sebelumnya, video AI yang menampilkan Senator Chuck Schumer dan House Minority Leader Hakeem Jeffries telah menimbulkan kritik karena dianggap menyesatkan dan memuat konteks yang sensitif secara rasial.
Kasus terbaru ini memicu pertanyaan serius mengenai batas antara satire politik dan penyebaran misinformasi, serta pengaruhnya terhadap persepsi publik dan integritas proses demokrasi.
Meskipun sebagian pendukung Trump menilai video tersebut sebagai bentuk humor politik, banyak pihak, termasuk pengamat politik dan komunitas kreator, mengecam penggunaan AI untuk konten yang dianggap provokatif dan divisif. Kritik ini menekankan perlunya regulasi yang lebih jelas serta kesadaran publik mengenai penggunaan teknologi AI dalam media sosial, khususnya terkait kampanye politik.
Insiden ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya tanggung jawab etis dalam memanfaatkan kecerdasan buatan. Video kontroversial Trump menyoroti bagaimana teknologi modern dapat memperluas dampak pesan politik, baik positif maupun negatif. Para pengamat menilai bahwa tanpa batasan yang jelas, AI berpotensi digunakan untuk memanipulasi opini publik atau menimbulkan ketegangan sosial.