Catatan Dahlan Iskan

Rujak Solo

Share
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa berjabat tangan dengan Misbakhun usai Rapat Dengar Pendapat (RDP) di DPR.-Antara Foto-
Share

Saat krisis uang ketat 2007, Purbaya ingatkan itu ke tim SBY untuk menghindari terjadi krisis berulang. Ia bicara dengan Bright –grup think-thank-nya Presiden SBY. Krisis pun terhindarkan. Sampai muncul istilah ”SBYnomic” waktu itu.

Saran yang sama disampaikan lagi oleh Purbaya pada Presiden Jokowi tujuh tahun kemudian: ketika krisis uang ketat tahun 2015. “Pak Jokowi ambil langkah cepat. Ekonomi jalan lagi,” katanya.

Tujuh tahun berikutnya kumat lagi. Pertumbuhan uang beredar ketat lagi. Ingatan yang sama disampaikan Purbaya ke Jokowi. Di saat Covid. Ekonomi selamat.

Pertengahan tahun 2024 terjadi lagi. Kali ini belum periode tujuh tahunan. Uang ketat lagi. Pertumbuhan uang beredar kembali ke angka 0.

Purbaya sudah menjadi Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Akibatnya, ekonomi sangat lesu. Muncul tagar “Indonesia Gelap”. Yang disalahkan: kondisi global. Padahal ada yang di kendali kita sendiri.

Di awal masa jabatan Presiden Prabowo (Januari-April) pertumbuhan uang beredar membaik. Maka di akhir April 2025 Purbaya merasa gembira. Indonesia kembali cerah. Tidak akan terjadi krisis.

Tapi di bulan Mei-Juni-Juli-Agustus 2025 ekonomi dicekik lagi –istilah “dicekik” ini diucapkan Purbaya beberapa kali. Pertumbuhan uang beredar kembali menjadi 0.

Dua mesin ekonomi kita, dua-duanya mati. Bank menaruh uang di bank –di Bank Indonesia. Pemerintah juga menaruh uang di Bank Indonesia. Di Bank Indonesia uangnya santai-santai –maksudnya: mengendap.

“Padahal pertumbuhan ekonomi kita 90 persen ditentukan oleh domestik,” katanya.

Di saat ekonomi seret itu pemerintah justru menyedot pajak lebih banyak. Uangnya masuk BI. Mandeg di situ. “Kalau uangnya kembali beredar sih tidak apa-apa,” katanya.

Maka langkah cepat Purbaya setelah jadi menkeu adalah mengembalikan uang yang mengendap tersebut ke sistem.

Purbaya melihat ada uang pemerintah sebanyak Rp 500 triliun di Bank Indonesia. “Saya sudah lapor Bapak presiden, besok yang Rp 200 triliun akan saya kembalikan ke sistem,” katanya.

“Apakah sudah dilaksanakan?” bisik Purbaya ke wakil menteri di sebelahnya.

Share
Related Articles
Catatan Dahlan Iskan

Kang Dasep

Oleh: Dahlan Iskan Semasih mahasiswa pun ia sudah menjuarai lomba robot tingkat...

Rencana Pindah
Catatan Dahlan Iskan

Rencana Pindah

Oleh: Dahlan Iskan Kian simpang siur. Pun setelah seluruh dunia ikut menderita...

Catatan Dahlan Iskan

Iri Masyaallah

Oleh: Dahlan Iskan Saat saya di Yaman itu rupanya lagi musim kawin....

Catatan Dahlan Iskan

Oei Al-Kaff

Oleh: Dahlan Iskan Foto di museum Mukalla ini tidak asing di literatur...