Catatan Dahlan Iskan

Buku Lusuh

Share
Share

Lalu saya baca pertanyaan itu dalam bahasa Arabnya. Oh, bunyinya: wa man imamuka? Artinya Anda sudah tahu: siapa imam kamu?

Berarti tulisan mandarin tadi bukan bahasa mandarin. Tulisannya mandarin tapi bunyinya mirip “wa man imamuka”. Kalau tulisan mandarin itu dibunyikan satu per satu bunyinya begini: wo mai ne yi ma mu kai? Bukankah bunyi itu agak mirip “wa man imamuka”.

Anda pun ingat pelajaran di pondok pesantren: yang tulisannya huruf Arab tapi bunyinya bahasa Jawa.

Atas pertanyaan itu ada bocoran jawabannya: imam saya adalah

我的伊吗目是夫勒儿嘎奴.  Artinya, imam saya Al Furqan.

Berkali-kali saya ulangi pertanyaan dan jawaban itu. Sekalian menambah kosa-kata bahasa mandarin yang masih terbatas. Siapa tahu pertanyaan malaikat di sana nanti juga diajukan dalam bahasa mandarin.

Saya pun mengingat masa kecil dengan keras: jangan-jangan pernah diajarkan. Rasanya tidak. Saya yakin itu, karena pengertian saya, Al Furqan adalah nama lain Alquran. Padahal di pertanyaan nomor tiga sudah ada: apa kitab pedoman kamu. Jawabnya:  我的经典是古勒儿阿尼. Arabnya: Alquran.

Tapi jawaban dalam bahasa mandarin itu membingungkan saya. Karena di masa kini bahasa mandarinnya Quran adalah: 古兰经 (Gǔ lán jīng).

Saya tidak tahu apakah penulis buku tersebut salah paham. Atau ketika buku lungset itu ditulis belum ada standardisasi penulis Quran dalam bahasa mandarin.

Lama saya berhenti di halaman itu. Setelah mendekati waktu salat saya baru cepat-cepat membuka halaman berikutnya. Ternyata ada petunjuk teknis beberapa salat sunnah ¬–kalau dikerjakan dapat pahala, kalau tidak dikerjakan tidak berdosa.

Jenis salat sunnahnya ternyata lebih banyak. Ada salat sunnah adzin dan salat rasuli.

Lalu ada petunjuk mengucapkan niat salat wajib. Termasuk salat Jumat. Bacaan niat salatnya agak beda dengan waktu kecil saya: usali lillahi salatan fardu Jumatan muktadiyan bil imam.

Masjid pun penuh. Hanya sedikit orang asingnya –rupanya tidak ada universitas besar di kawasan ini. Tidak ada mahasiswa asing –dari Pakistan atau India– yang sering saya lihat di masjid lain.

Share
Related Articles
Singapura Gagal
Catatan Dahlan Iskan

Singapura Gagal

Oleh: Dahlan Iskan Setiap kali ke Suzhou tidak pernah lagi bermalam di...

Tamparan Mojtaba
Catatan Dahlan Iskan

Tamparan Mojtaba

Oleh: Dahlan Iskan Yang terlibat perang IsAm-Iran, yang hancur perasaan kita semua....

Fir'aun Baik
Catatan Dahlan Iskan

Fir’aun Baik

Oleh: Dahlan Iskan Fir'aun yang ke 18 lah yang mumminya paling banyak...

Catatan Dahlan Iskan

Tol Tentara

Oleh: Dahlan Iskan Yang paling saya kagumi selama di Mesir adalah jalan...