Di antaranya adalah masih terbatasnya luasan lahan budidaya dan minimnya produk kopi Liberika karena masalah budaya pertanian kopi yang belum sepenuhnya terinternalisasi dalam kehidupan petani setempat.
Kebun-kebun kopi milik petani umumnya hanya dianggap sebagai usaha sampingan, tidak dikelola secara profesional dan berkelanjutan. Banyak diantara mereka bahkan tidak mampu memanen sendiri, hingga buah ceri matang membusuk di pohon. Petani mengeluhkan sulit dan mahalnya mendapatkan pekerja pemetik harian.
Pasokan Bahan Baku Kopi Liberika Belum Stabil
Sigit, pelaku usaha kuliner di Samarinda, menyoroti ketidakstabilan pasokan bahan baku kopi liberika.
Menurutnya, saat ini telah ada sentimen positif, ketertarikan konsumen terhadap kopi liberika yang ia sajikan di kedai miliknya.
Namun, ia kesulitan untuk memenuhi keinginan konsumen yang ingin membawa pulang roasting biji kopi liberika yang dijualnya.
Sigit mengaku hasil roasting biji liberika di kedainya, ia dapatkan hanya dari satu sumber yang suplainya sangat terbatas dan tidak menentu.
Sedangkan kalangan perguruan tinggi, menghimbau perlunya kolaborasi lebih luas diantara para pihak dalam mengembangkan budidaya kopi liberika dari hulu hingga hilir secara terintegrasi.