Secara bahasa, “Ayyamul Bidh” berasal dari bahasa Arab; “ayyam” berarti hari, dan “biid” berarti putih. Nama ini merujuk pada kondisi malam hari di pertengahan bulan Hijriah yang terlihat terang karena cahaya bulan.
Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk rutin berpuasa tiga hari setiap bulan. Dalam sebuah hadits, beliau bersabda kepada sahabat Abu Dzar:
“Jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (bulan Hijriah).”
(HR. Tirmidzi dan An-Nasa’i)
Asal Usul Nama Ayyamul Bidh
Mengutip dari Banjarmasinpost, dalam kitab ‘Umdatul Qari’ Syarhu Shahihil Bukhari, disebutkan bahwa nama Ayyamul Bidh juga berkaitan dengan kisah Nabi Adam AS.
Dikisahkan bahwa ketika Nabi Adam pertama kali diturunkan ke bumi, tubuhnya menjadi hitam terbakar oleh panas matahari. Lalu Allah SWT memerintahkannya untuk berpuasa selama tiga hari, yaitu pada tanggal 13, 14, dan 15 bulan Hijriah. Setelah menjalani puasa tersebut, sepertiga tubuh Nabi Adam kembali menjadi putih pada hari pertama, sepertiga lagi pada hari kedua, dan seluruh tubuhnya kembali seperti semula di hari ketiga.
Ini seperti yang dijelaskan dalam hadits berikut:
صَوْمُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ صَوْمُ الدَّهْرِ كُلِّهِ
“Puasa pada tiga hari setiap bulannya adalah seperti puasa sepanjang tahun.” (HR Bukhari nomor 1979).
Adapun anjuran untuk melaksanakan puasa putih adalah sebagai berikut:
Dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya,
يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ
“Jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriyah).” (HR. Tirmidzi no. 761 dan An Nasai no. 2425. Abu ‘Isa Tirmidzi mengatakan bahwa haditsnya hasan).
Nah, bagi kamu yang sedang melaksanakan puasa sunnah syawal, kamu bisa menyambungnya dengan Puasa Ayyamul Bidh ini seperti.
صَوْمُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ صَوْمُ الدَّهْرِ كُلِّهِ
“Puasa pada tiga hari setiap bulannya adalah seperti puasa sepanjang tahun.” (HR Bukhari nomor 1979).







