Home Bisik Disway Skandal Mega di Kemendikbudristek! Proyek Chromebook Rp9,9 Triliun Diduga Rasuah, ICW dan Kopel Soroti Kejanggalan
Bisik Disway

Skandal Mega di Kemendikbudristek! Proyek Chromebook Rp9,9 Triliun Diduga Rasuah, ICW dan Kopel Soroti Kejanggalan

Share
Share

Selain investigasi, ICW meminta Kejagung dan Kemendikbudristek untuk merilis laporan publik terkait distribusi Chromebook dan evaluasi hasil digitalisasi pendidikan 2019–2024.

Keputusan Kemendikbudristek untuk menentukan spesifikasi laptop dengan sistem operasi Chromebook menjadi salah satu misteri terbesar dalam kasus ini.

Pilihan ini dianggap sangat tidak realistis. Tidak sesuai dengan kondisi geografis serta infrastruktur di Indonesia.

Terutama untuk wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) yang menjadi target distribusi.

Jaringan Internet yang Pincang
Chromebook sangat bergantung pada koneksi internet yang stabil dan cepat. Jaringan di banyak daerah 3T di Indonesia masih jauh dari kata memadai.

Bahkan sering tidak ada akses internet sama sekali. Ini membuat penggunaan laptop berbasis Chromebook di daerah tersebut menjadi tidak efektif. Bahkan mubazir.

Hasil Uji Coba Buruk di 2019
Lebih parah lagi, penggunaan laptop Chromebook ini sudah pernah diuji coba pada tahun 2019. Hasilnya menunjukkan perangkat tersebut tidak efisien untuk pembelajaran di wilayah dengan akses internet terbatas.

“Sehingga menjadi pertanyaan, mengapa Menteri Nadiem Makarim memutuskan spesifikasi Chromebook dalam lampiran Permendikbud No. 5 Tahun 2021,” papar Almas.

Kejanggalan ini bukan sekadar kesalahan teknis. Melainkan menimbulkan kecurigaan kuat akan adanya motif tersembunyi.

Pengadaan yang dipaksakan dan tidak sesuai kebutuhan ini, lanjut Almas, seringkali berakar dari permufakatan jahat.

Modus korupsi yang mungkin terjadi beragam, mulai dari mark-up harga. Yaitu penggelembungan harga barang, ‘cashback (uang kembali)’ dari penyedia, hingga dugaan ‘pungutan liar’ dalam proses distribusi barang.

“Kami belum mengetahui modus dari korupsinya,” terang Almas.

Namun, ia menekankan bahwa keuntungan yang didapat penyedia harus ditelisik kewajarannya, apakah ada pelanggaran ketentuan atau mark-up yang tidak pantas.

Siapa ‘Otak’ di Balik Skandal Ini?

ICW meragukan kasus ini hanya melibatkan staf khusus menteri. Almas menegaskan hierarki tanggung jawab.

Share
Related Articles
Bisik Disway

Menuju Indonesia Satu Aplikasi

IKNPOS.ID – Menghilangkan redundansi dan Memangkas birokrasi berbelit. Juga diharap bisa menciptakan...

Bisik Disway

Progres IKN Dikebut! Masjid Rp940 Miliar dan Istana Wapres Rp1,4 Triliun Ditarget Rampung Desember 2025

IKNPOS.ID - Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur terus berjalan...

Bisik Disway

Pembentukan Kementerian Haji, Upaya Memuliakan Tamu-tamu Allah

IKNPOS.ID - Pemerintah membentuk sebuah kementerian baru: Kementerian Haji. Kementerian ini punya...

Bisik Disway

GPM 2025: Harga Pangan Tetap Terjangkau, Inflasi Terkendali

IKNPOS.ID - PROGRAM ini bukan sekadar program biasa. Gerakan Pangan Murah (GPM)...