Catatan Dahlan Iskan

Ultah 美

Share
People gather with a US flag at St Peter's square with the St Peter's Basilica in the background on the day Pope Leo XIV leads the Regina Caeli prayer, in the Vatican, on May 11, 2025. (Photo by JEFF PACHOUD / AFP)
Share

TIDAK SENGAJA. Inilah utlah presiden terbesar dalam sejarah: 14 Juni lusa. Atau disengaja. Terserah saja.

Sebenarnya tanggal 14 Juni itu adalah ulang tahun bendera Amerika Serikat: The Stars and Stripes. Tapi kebetulan sekali, tanggal itu juga hari kelahiran Presiden Donald Trump.

Tahun ini memang istimewa. Ultah bendera Amerika itu yang ke-250. Sejak awal memang akan diperingati secara khusus, tapi lantas menjadi sangat istimewa setelah panitia menerima masukan dari Gedung Putih.

Maka berubahlah rencana itu. Awalnya saja sudah direncanakan diikuti oleh 7.000 tentara, 152 kendaraan perang, 50 pesawat tempur, dan ribuan undangan.

Parade akan melintas di depan Gedung Putih. Presiden Trump, yang hari itu ulang tahun ke-79 akan berada di panggung kehormatan.

Maka anggaran peringatan pun membengkak. USA Today memperkirakan sampai sekitar Rp 700 miliar.

Sudah termasuk biaya mengangkut armada tempur itu ke Washington DC. Tidak ada yang mempersoalkan: negara kaya bisa ulang tahun pakai biaya sebesar itu.

Bendera Amerika memang telah menjadi simbol paling tinggi untuk mewakili “inilah Amerika”.

Garuda Amerika pun kalah. Bendera itu sekaligus telah menjadi simbol patriotisme melebihi bendera negara mana pun di mata rakyat mereka.

”Patriotisme simbol” tercipta  dari peristiwa terjadinya ”perebutan” bendera itu: 1861. Yakni saat meletusnya perang sipil di Amerika.

Bendera itu dipasang di Fort Sumter. Anda sudah tahu di mana benteng Fort Sumter: di pantai timur South Carolina.

Hari itu bendera tersebut akan diturunkan paksa. Yang menurunkan adalah aktivis negara-negara bagian di selatan yang ingin merdeka dari Amerika Serikat.

Upaya itu berhasil digagalkan. Perang sipil terus berlangsung. Mereka mendirikan negara sendiri: Konfederasi Amerika. Utara dan selatan bertempur selama empat tahun. Selatan kalah.

Selama perang itulah The Stars and Stripes menjadi simbol patriotisme. Kalau awalnya hanya dikibarkan di instansi militer, sejak itu rakyat sipil pun mengibarkan The Stars and Stripes. Di rumah masing-masing. Apalagi setelah bisa dicetak masal di Tiongkok dengan sangat murahnya.

Share
Related Articles
Rencana Pindah
Catatan Dahlan Iskan

Rencana Pindah

Oleh: Dahlan Iskan Kian simpang siur. Pun setelah seluruh dunia ikut menderita...

Catatan Dahlan Iskan

Iri Masyaallah

Oleh: Dahlan Iskan Saat saya di Yaman itu rupanya lagi musim kawin....

Catatan Dahlan Iskan

Oei Al-Kaff

Oleh: Dahlan Iskan Foto di museum Mukalla ini tidak asing di literatur...

Mata Lasik
Catatan Dahlan Iskan

Mata Lasik

Oleh: Dahlan Iskan Di kursi belakang mobil Noah ini juga ada satu...