Catatan Dahlan Iskan

Kedelai Gajah

Share
Share

SAYA ke sawah pekan lalu. Ke rumah seorang petani di dekat Greensburg. Satu jam dari Indianapolis –sehari sebelum nonton balap mobil Indy500.

Dari Greensburg pun, untuk ke ”desa” itu, harus bermobil. Melewati jalan-jalan aspal yang membelah sawah yang luas.

Di kejauhan sana, di tengah sawah sana, terlihatlah segerumbul pepohonan. Gerumbulan pohon itulah yang saya sebut satu ”desa”. Saya beri nama Desa Charles.

Satu ”desa” itu isinya dua atau tiga bangunan saja. Milik satu orang. Charles.

Bangunan pertama rumah tinggal. Satunya lagi bengkel mekanik. Yang ketiga unit pengolah hasil pertanian.

Di ”Desa Charles” hanya keluarga Charles yang tinggal. Dengan istri dan Adams, anak laki-lakinya yang baru lulus SMA. Di seputar ”desa” itu hanya ada hamparan sawah nan luas.

Dari jauh gerumbulan pohon itu seperti sebuah pedukuhan yang amat kecil. Setelah tiba di situ terlihat luas. Rumah tinggalnya, dua lantai. Halamannya luas –ditanami bebungaan dan tanaman hias.

Di sudut halaman sana, ada bangunan processing kedelai. kedelai dijadikan minyak –dijual ke pabrik minyak goreng untuk dimurnikan. Atau jadi biodiesel.

Saya masuk ke unit processing itu. Mesinnya sederhana sekali: mesin press kedelai biasa. Seperti rakitan mereka sendiri.

Nyeberang ke halaman belakang ada bangunan bengkel. Lebih besar dari rumah dan unit processing kedelai. Saya pun diajak masuk ke bengkel. Wow! ada gajah bengkak di dalam bengkel itu.

Yang saya sebut gajah-bengkak adalah kendaraan raksasa milik Charles. Harganya: Rp 10 miliar. Seorang petani bisa beli kendaraan semahal itu.

Roda kendaraan itu sangat besar. Ukuran bannya saja lebih tinggi daripada badan saya. Untuk naik ke tempat kemudi harus memanjat lima anak tangganya.

Itulah mesin untuk panen kedelai. Dengan satu mesin itu tanaman kedelai seluas 1000 hektare bisa dipanen dalam satu minggu. Termasuk proses menjadikannya butiran kedelai, juga di mesin itu.

Saya naik ke kursi kemudi kendaraan itu. Kursinya mirip kursi pilot pesawat –bisa mentul-mentul agar tidak terjadi guncangan saat melewati lubang.

Share
Related Articles
Serangan Fajar
Catatan Dahlan Iskan

Serangan Fajar

Oleh: Dahlan Iskan Perlunya minoritas diperlakukan secara fair terbukti di dua kejadian:...

Catatan Dahlan Iskan

Bela Khamenei

Oleh: Dahlan Iskan Perlukah Presiden Indonesia mengucapkan duka cita atas meninggalnya pemimpin...

Tujuan IsAm
Catatan Dahlan Iskan

Tujuan IsAm

Oleh: Dahlan Iskan Jadi, apa sebenarnya tujuan IsAm menyerang Iran? Itulah yang...

Krisis Bahlil
Catatan Dahlan Iskan

Krisis Bahlil

Oleh: Dahlan Iskan Perangnya di Iran krisisnya bisa di Indonesia: krisis batu...