IKNPOS.ID – Pasar keuangan global kembali diguncang ketidakpastian setelah China mengumumkan tarif balasan 34% terhadap impor AS. Kepanikan investor memicu arus keluar modal besar-besaran dari aset berisiko, termasuk pasar negara berkembang. Rupiah pun menjadi korban, dengan kontrak Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore terjun bebas ke level Rp17.012 per dolar AS.
Rupiah NDF Offshore: Alarm Bagi Pasar Domestik?
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah NDF melemah 1,63% dalam satu hari, menembus level psikologis Rp17.000 per Dolar AS. Pergerakan ini menjadi sinyal bearish bagi rupiah di pasar spot yang baru akan dibuka pasca-libur Lebaran 7 April 2025.
Faktor Pendorong Pelemahan Rupiah:
- Kebijakan tarif China 34% pada produk AS memperdalam ketegangan perdagangan global.
- Penguatan indeks dolar AS ke level 102,16.
- Laporan Non-Farm Payroll (NFP) AS yang melebihi ekspektasi (228.000 pekerjaan) justru memicu kekhawatiran inflasi dan kenaikan suku bunga Fed.
“Pasar mengabaikan data positif NFP karena fokus pada risiko resesi akibat perang dagang,” jelas Scott Ladner, Head of Investment di Horizons Investments.
Apa Itu Pasar NDF?
Non-Deliverable Forward (NDF) adalah instrumen derivatif yang memungkinkan pelaku pasar bertaruh pada pergerakan mata uang tanpa penyerahan fisik. Biasanya digunakan untuk:
- Hedging oleh perusahaan multinasional.
- Spekulasi oleh bank investasi dan hedge fund.
Pergerakan rupiah NDF sering menjadi leading indicator bagi rupiah spot, terutama dalam kondisi volatilitas tinggi seperti sekarang.
Investor Berbondong ke Safe Haven
Eskalasi perang dagang memicu gelombang jual di pasar saham global:
- Indeks S&P 500 turun 2,5%, Nasdaq anjlok 2,7%.
- Saham teknologi (NVIDIA, Tesla, Apple) dan emiten China (Alibaba, Baidu) terpukul paling berat.
- Surat utang AS (UST) menjadi primadona baru, dengan yield 10-tahun turun ke 3,944%.
Indeks Volatilitas (VIX) melonjak mendekati 40, menandakan kepanikan pasar terburuk dalam beberapa tahun terakhir.
Respon China vs AS: Siapa yang Lebih Tertekan?
China tidak tinggal diam setelah AS menaikkan tarif impor. Langkah balasan Beijing termasuk:
- Tarif 34% untuk semua produk AS (efektif 10 April 2025).
- Investigasi impor alat medis dari AS dan India.
- Pembatasan impor unggas dari dua perusahaan AS.
Prediksi Rupiah Pasca Libur Lebaran 7 April 2025
- Bearish Case: Jika sentimen global masih negatif, rupiah spot bisa menyentuh Rp16.800–Rp17.200 per Dolar AS.
- Bullish Case: Pemulihan teknis mungkin terjadi jika Fed memberi sinyal lebih dovish.
Menghadapi Tantangan Ekonomi Global
Untuk mengatasi tantangan ekonomi global, negara-negara harus bekerja sama untuk mengurangi ketegangan perdagangan dan meningkatkan kerja sama ekonomi internasional. Terutama Indonesia. Caranya adalah:
- Negosiasi Perdagangan yang Konstruktif: Melakukan negosiasi perdagangan yang adil dan transparan untuk mengurangi tarif dan meningkatkan kerja sama ekonomi.
- Pengembangan Ekonomi Dalam Negeri: Fokus pada pengembangan ekonomi dalam negeri dengan meningkatkan produksi domestik dan mengurangi ketergantungan pada impor.