ADA istilah baru: MAWA. Make America Wealthy Again. Itu diucapkan oleh Presiden Donald Trump di ”pidato hari kemerdekaan” Amerika Serikat kemarin subuh WIB.
Waini MAGA seperti rumah yang punya kamar di lantai dua: MAWA. Itulah tujuan kebijakan Trump yang menghebohkan dunia. Tidak hanya untuk Make Amerika Great Again. Tapi juga kembali kaya.
Negara terkaya itu rupanya merasa sudah miskin. Dalam istilah Trump Amerika sudah seperti negara ketiga. Kalah oleh Tiongkok –yang dulu negara amat miskin. Tentu yang dimaksud adalah kemajuan infrastrukturnya.
Apakah pengenaan tarif baru bea masuk barang ke Amerika bisa membuatnya kembali menjadi negara paling kaya?
Itulah yang jadi perbincangan akademis. Awalnya ide Trump itu hanya dianggap gertak sambal. Tidak sampai membuat ada yang menghitung dampak terinci dari kebijakan itu. Tapi dengan kepastian yang dilakukan Trump kemarin, seluruh dunia kini sibuk berhitung.
Dampak jangka pendek bagi Amerika jelas: ibarat Anda merenovasi rumah. Anda akan merasakan suasana yang sangat tidak nyaman. Beberapa bagian rumah dirusak. Suara palu berdentang. Berisik gergaji mendenging. Kamar tidur Anda pun berdebu. Air kran bocor. Tanaman dan bunga ketimpa reruntuhan.
Kelak, setelah rumah Anda selesai direnovasi, barulah Anda terlihat lebih kaya: rumah lebih besar. Lebih bagus. Lebih nyaman.
Itu kalau renovasinya sukses. Ada renovasi rumah yang memakan waktu sampai tiga tahun. Masa jabatan pun keburu habis. Bahkan ada renovasi yang berhenti di tengah jalan: kehabisan biaya. Atau bertengkar dengan kontraktornya.
Para petani Amerika bisa tergolong yang waswas. Sejak perang dagang dengan Tiongkok banyak petani sudah di ambang bangkrut. Harga hasil pertanian jatuh. Tiongkok lebih memilih impor kedelai dari Brasil.
Waini, ”rumah” para petani itu harus direnovasi. Yang merenovasi Trump. Mereka tidak menanggung biaya renovasi tapi merasakan ketidaknyamanannya. Apalagi kalau di tengah renovasi kelak, terjadi perkembangan baru: renovasi berhenti sebelum selesai.