Catatan Dahlan Iskan

Danantara Kubur

Share
Share

Dalam kasus perkebunan lebih rumit. Aset perkebunan bisa jutaan hektare. Tapi berapa hektare yang sebenarnya masih dikuasai BUMN perkebunan. Lalu berapa yang sudah jadi kampung. Berapa yang diduduki penduduk atau sudah diperjualbelikan oleh swasta.

Apakah yang seperti itu sudah dibereskan saat berproses pembentukan holding yang lalu.

Danantara tentu harus memeriksa dan bersikap. Aset seperti apa yang bisa diterima. Apakah aset apa adanya seperti yang tercatat di buku BUMN, atau hanya aset yang sudah clean and clear.

Di Perhutani lebih ruwet lagi. Banyak hutan yang masih tercatat sebagai aset Perhutani. Tapi sudah tidak ada hutannya. Sudah banyak yang jadi kota atau desa. Atau jadi tanah bersemak.

Termasuk yang di PSN PIK2 itu. Statusnya hutan Perhutani tapi sudah jadi semak belukar. Ketika akhirnya jadi PSN PIK2 ribut: seolah hutan Perhutani yang dijadikan proyek. Statusnya memang masih hutan tapi tidak ada pohonnya.

khotimah.

Setelah mereka menjadi anaknya Danantara tentu gerak menjadi lebih luwes. Termasuk luwes dalam menutup atau menjualnya. Killing softly.

Maka hura-hura menyambut kelahiran bayi Danantara jangan lama-lama. Banyak pekerjaan administrasi yang ruwet yang harus dibereskan.

Saya percaya dengan Danantara akan lebih baik dibanding saat masih BUMN. Jalan untuk bisa tumbuh 7 persen tidak banyak. Apalagi harus 8 persen seperti yang ditargetkan Presiden Prabowo.

Danantara, seperti yang saya sampaikan di video dari Ethiopia kemarin, bisa jadi sepatu baru. Sepatu lari yang andal. Agar kita bisa lari lebih kencang. Jangan sampai dikejar negara seperti Ethiopia.

Tinggal bagaimana menjaga agar sepatunya tidak jebol di saat start.

Jelas, setelah akta kelahiran bayi Danantara ditanda tangani Presiden Prabowo Subianto Senin lalu, belum bisa sekalian dikeluarkan akta kematian BUMN. Prosesnya masih akan rumit dan panjang. Perlu kerja sangat keras. Juga ikhlas. Tidak boleh ada moral hazard dalam proses itu.

Mungkin setahun lagi mayat BUMN baru bisa benar-benar dikuburkan. Atau dua tahun lagi. Saat itulah memang “doa kubur” baru bisa diucapkan. (Dahlan Iskan)

Share
Related Articles
Hari Kemenangan?
Catatan Dahlan Iskan

Hari Kemenangan?

Oleh: Dahlan Iskan Tidak hanya saya yang tidak bisa kumpul keluarga di...

Catatan Dahlan Iskan

Garam Listrik

Oleh: Dahlan Iskan https://youtu.be/6gtSTkIJcec Dari pabrik alat berat terbesar di dunia, saya...

XCMG Mlilir
Catatan Dahlan Iskan

XCMG Mlilir

Oleh: Dahlan Iskan Pabrik hebat yang saya kunjungi ini dulunya hanya pembuat...

Otak Maextro
Catatan Dahlan Iskan

Otak Maextro

Oleh: Dahlan Iskan Saya naik iPhone di Xuzhou, Tiongkok. Kali pertama dalam...